Senin, 31 Januari 2011

Wanna Say Sorry...

Quw hanya menulis,,,,,, 
cukup menulis saja...... 
Karena Quw tag akan sanggup berkata sambil tersenyum di depan kalian...... 

Quw menulis,,,,, 
karena Quw merasa berbuat kejahatan pada orng" tercinta Quw.... 
tiba" melangkah jauh,,,,, 
jauh.....!!!! 
hingga mereka terluka..... 
hingga mereka tersakiti...... 
mungkin hingga mereka merasa Quw telah hilang..... 

Maaph..... 
Quw hanya ingin berjalan sedikit menepi..... 
mencari sepi yang paling sunyi... 
berharap menemukan hening yang paling hampa... 
n membuang sedih Quw..... 
mengubur tangis Quw.... 
memendamnya ke dalam palung yang paling gelap.... 

Quw tertawa untuk menutupi selaput kelemahan Quw.. 
menyamarkan air mata yang selalu ingin jatuh.. 
Cukup dinding putih, bantal yang mulai padat, n radio butut yang mendengar Quw.... 
Quw tag mau kalian ikud mengalir dalam sungai yang Quw pun tag mau melihatnya mengalir... 
tp memang harus mengalir... 
n Quw cukup melihatnya saja..... 

Quw hanya ingin hadir dengan keceriaan.... 
Quw hanya ingin berbagi bahagia dengan kalian... 
Quw hanya tag ingin mencairkan tangis n sedih Quw d antara kalian... 
Quw hanya ingin berbagi tawa.... 
karena Quw menyayangi kalian..... 
karena Quw takudh kehlngan org" yang telah menyayangi Quw.... 

Maaph telah banyak mengirim kesusahan pada kalian..... 
maaph..... 

For my parents (especially my mom), special someone, n my best friends!!!!

~Friday, June 18, 2010 at 10:44am~

Selasa, 25 Januari 2011

Tujuh Belas Januari


Ada hari..
Dimana kamu memandang bola mataku lekat-lekat
Menelusupkan rasa yang tak pernah kuijinkn masuk

Ada hari..
Dimana tanganmu menggenggam erat jemariku
Merasakan aliran darah yang berdesir melewati pembuluh arteriku
Seakan kamu tak akan pernah melepasnya
Meskipun hanya sebuah jari kelingking kecilku
Ada hari..
Dimana kamu memberikan pundakmu yg kokoh
Sandaran yang paling nyaman
Ketika bebanku teramat berat
Ketika aku tak kuat menopangnya sendirian
Ada hari..
Dimana kamu mengeluarkn sedikit emosi
Emosi yg dibuntuti kecemasan
Ketika lambungku merengek
Tak mau diisi barang sesuap pun
Ada hari..
Dimana kamu merangkulku dengan kalut
Membiarkan kepalaku bersembunyi di dadamu
Karena tak ingin semua makhluk menontonku menangis pedih
Ada hari..
Dimana aku merasa lelah pada jalan yang kita lalui
Terlalu terjal dan curam
Kemudian kamu membantuku brdiri
Menggandengku berjalan kembali d sampingmu
Ada hari..
Dimana kamu mengelus gemas kepalaku
Merasakan sikap manja yang keluar disela derai ceriaku
Ada hari..
Dimana kamu muncul dengan murung dan sedih
Tercekik memandang sekujur tubuhku lemah
Sakit menggerogoti tiap senyumku
kamu mnjaga di samping pembaringan
Hingga kantuk menyergap keletihan yang kamu tahan
Ada hari..
Dimana ejekanmu menemani waktu-waktu bosanku
Ejekan yang membentuk mulut manyunku
Ejekan yg kmudian membentuk rasa kangenku di tiap detik yang lewat
Ada hari..
Dimana kamu mengecup mesra keningku
Ketika ragu membatu di pikiranku
Ketika takut berkecamuk di rongga perasaanku
kamu brbisik 'aku sayang kamu'
..........

          17 Januari 2011
        Mentari dan embun, komposisi yang menakjubkan ketika subuh mulai menjelma sebentuk pagi di luar balkon kamar. Pemandangan yang biasa di setiap pagi, tapi selalu begitu luar biasa bagi kedua bola mataku. Samar cahaya masuk menerobos jendela kaca, mengusir kantuk dan mengejutkan mimpi. Duduk menikmati langit dengan sedikit goresan warna, warna yang belum tentu akan kamu temui dengan kompilasi yang sama pada tiap pagi. Sekilas kuamati angka  yang tersusun di kalender, meraba-raba hari dan tanggal. Aku selalu lupa menandai hari dan tanggal yang memomentumkan tiap hari baru yang mampir. Senin untuk 17 Januari 2011, setahun kah sudah?. Aku hampir tak percaya bahwa waktu berlari lebih cepat dari yang kuprediksikan atau memang aku tak pernah benar-benar memprediksi kelebat waktu yang lewat?. Aku memang tak pernah pandai memprediksi waktu, karena aku lebih senang beranjak bangun dari masa lalu dan membiarkan waktu bergerak sesuka hatinya. “Jika kamu pun tak mampu menyelesaikan kesedihanmu, maka biarkan waktu yang menyelesaikannya”, kata seorang teman, karena itu aku berharap waktu benar-benar berhasil menyelesaikan masa laluku. Tapi aku selalu menyukai pagi, menyukai 17 Januari, dan menyukai moment yang pernah terjadi setahun yang lalu.
***
         17 Januari 2010,
         1 message received “Pergi agak sorean ya?takut ujan, ntar batal laga!!sekitar jam 4-an aku jemput, semoga gak ketiduran,hehehe”
Senyum mengembang dari bibirku, tak perlu terpaku di depan kaca untuk melihat bayanganku, karena aku dapat merasakan bahwa aku telah bersemu merah, dia selalu berhasil memaksaku tersenyum dan merasa bahagia. Jam dinding yang nongkrong di dinding menunjukkan pukul 2 siang, kuputuskan untuk memejamkan mata sejenak, menunggu waktu beranjak ke pukul 4 sore. Sayangnya aku tidak berhasil menutup kelopak mata.
        Tik tok....
       Pukul 16.00 WIB, 1 message sending "udah bangun kan?jangan bilang kamu ketiduran!!". Lima menit kemudian 1 balasan sms datang, "aduh,,,maaf! ketiduran beneran, telat ya. maaf...maaf... =( ". Huh...dasar kebo, ya sudahlah aku sudah memprediksi kemungkinan dia bakal ketiduran, dan ternyata benar 100%.
         Tiga puluh menit kemudian, suara motornya yang khas mengejutkanku dari lamunan dan poseku yang lumayan BeTe seperti besi karatan. Pura-pura pasang tampang ngambek dan manyun 5 meter. Dia berusaha meminta maaf, dan menghiburku agar mulut manyunku ini segera normal kembali. Hahahaha...padahal aku tidak benar-benar marah dan aku selalu tidak bisa marah padanya, pada sepasang mata yang telah menyihirku. 
       Mentari sore bersama sedikit mendung yang menggantung di langit senja, rasanya sore yang istimewa, sore yang berbeda. Aku berharap hujan tidak ikut dalam perjalanan kami mengelilingi kota Joegja, barangkali dia juga berharap hal yang sama. Sore ini aku menyukai angin, menyukai lalu lintas, menyukai debu yang berterbangan, menyukai aspal, dan menyukai parfumnya. Benar kata orang, ketika merasa berbahagia waktu akan terasa berjalan sangat cepat. Maghrib menjemput petang, kami memutuskan untuk berhenti dan melaksanakan shalat maghrib. Seorang sosok yang nyaman dan teduh, seorang imam, dan aku benar-benar menyayanginya.
    Gerimis mulai memagut bumi, mencair pelan dari langit yang mulai semakin gelap. Kami memutuskan untuk segera meninggalkan masjid dan mencari tempat makan. Dia membawaku ke tempat yang benar-benar istimewa, dengan kolam yang menyimpan beberapa bunga teratai dan temaram lampu neon yang membuat suasana romantis, ataukah hanya perasaanku yang merasa semuanya terlalu sempurna dan istimewa malam ini.
 "Kamu suka tempat ini?", suaranya mengagetkanku yang agak tercengang suasana tempat ini.
"Aku suka tempat ini", kemudian aku mengangguk, memantapkan jawabanku.
Tidak,,ini bukan perasaanku saja, dia benar-benar mengatakan perasaannya, dia memandang bola mataku lekat-lekat, dia meminta jawaban, dia mencoba menebak perasaanku, dan dia menanyakan perasaanku padanya. Darahku berdesir, jantungku berdegup terlalu kencang, dan kupastikan pipiku memerah, atau mimik mukaku berubah menjadi konyol. Oh...jangan memalukan, aku mohon. Aku tidak dapat berkata apapun, aku membisu, aku malu untuk berkata. Tapi aku pun menyayangimu, benar-benar seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman.
"Kita makan dulu, setelah itu kamu harus jawab pertanyaanku", katanya sambil melahap makanan di depannya.
Aku berharap makananku tidak pernah habis dan kalau aku boleh meminta, aku berharap Tuhan memberikan dia kemampuan telepati, jadi tidak perlu mulutku yang harus menjawab pertanyaannya, cukup hatiku saja yang berkata.
"Sekarang bicaralah, bagaimana perasaanmu padaku?", tanyanya sekali lagi sambil menggenggam telapak tanganku.
Aku benar-benar merasa bersikap memalukan dan konyol, hanya mesem-mesem malu seperti kucing. Pada akhirnya tetap sepasang mata itu yang mampu meyakinkan aku dan mengajak bibirku berbicara.
"Aku juga ngrasa nyaman sama kamu, aku menyayangimu juga", jawabku dengan muka merah berseri bercampur sikap kekanakanku yang malu-malu kucing.
      Kami memutuskan untuk menempuh perjalanan ini bersama-sama, saling bergandengan dan menguatkan satu sama lain. Kami tahu ada rintangan besar yang harus dihadapi dan aku mengerti satu hal, aku belum bisa masuk ke dalam dunia keluargannya. Keluarganya memberlakukan larangan "pacaran" baginya. Tapi kami yakin, kami mampu menghadapinya, mampu menyanggahnya, dan mampu melewatinya bersama-sama. Aku yakin padanya, pada genggaman tangannya, pada kedua tatapannya, dan pada kekuatannya.
       Sampai pada suatu waktu, sebuah komitmen yang kami bangun bersama tidak semudah itu kami lalui, tidak mudah buat dia, dan selalu menyakitkan bagiku. Apa yang sudah kami susun dan ciptakan bersama harus diakhiri saat itu, harus disimpan dalam-dalam, kalau pun bisa harus dihapus sebersih-bersihnya. Aku kesakitan, aku menangis tanpa air mata, aku ingin tetap kuat dihadapannya, dan kubiarkan dia menggenggam tanganku untuk yang terakhir kalinya. "Masihkah kamu menyayanngiku?", untuk terakhir kalinya aku menanyakan hal ini karena tidak akan dapat kuulangi lagi ketika esok datang menyambutku. "Aku masih menyayangimu, sangat menyayangimu, maafkan aku!", ada getaran yang tercekat dalam kata-katanya dan aku ingin menangis, biarkan air mataku keluar. Terdengar olehku langkah kakinya keluar dari tempatku duduk membeku, menuju motornya, dan menjalankan motornya keluar dari gerbang. Tangisku pecah, hatiku hancur dan berserakan, tidak tahu waktu yang akan aku butuhkan untuk membangunnya kembali atau aku tidak mampu membangunnya kembali.
Ada hari..
Dimana kamu mengulang prmintaan maaf
Saat esistensi U semakin berkurang
Saat kehadiranmu tak mampu mengobati rasa kangenku
Saat waktumu dilahap kesibukan
Ada hari..
Dimana aku memahat keyakinan akan cintamu
Mengukir kesungguhan sayangku untuk jiwamu
Dan menaruh harapan terbesarku padamu
Ada hari..
Dimana semua perlahan-lahan mulai brmetamorfosis
Berevolusi menjadi dingin yang tak mampu terukur oleh termometerku
Melukai pahatan keyakinanku atasmu
aku menerjemahkan sebab positif
Dan brharap semua kembali dalam takaran yang normal
Ada hari..
Dimana kamu semakin jauh berlari
Tak lagi menggandeng tanganku
Tak lagi menungguku
Tak lagi menguatkanku
Tapi semakin meninggalkanku
Menyisakan jejak perih
Bayangan yg memeras kelenjar air mataku
Ada hari..
Dimana akhirnya aku jatuh
kamu tak lagi ada untuk membangunkanku
aku harus berjuang bangun dengan sisa-sisa kekuatanku
Kekuatan yang telah turut kamu bawa pergi
Dan aku hanya berbisik lirih 'terima kasih atas senang dan sakit yang kamu lukis dalam cawan hidupku'
Mungkin tak terdengar olehmu
Atau mungkin kamu sudah menutup telinga rapat-rapat
Kemudian aku tersenyum
****
                 17 Januari 2011
     Aku membiarkan setitik air mata mengalir di pipiku tanpa jalur aliran. Aku masih mencoba menghapus rasa sayangku dan menyimpan semua menjadi bagian kisah yang pernah lewat dalam hidupku. Satu yang belum berhasil kulakukan adalah menghapus bayanganmu, menghapus tatapan sepasang bola matamu, dan menghentikan rasa sayangku. Sebuah lagu mengalun dari sebuah  radio butut, lagu yang pernah menggambarkanmu untukku, dulu....

sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih



sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya 
semua bimbang tangis kesepian

kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku

sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini

sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku

Cinta Pertama dan Terakhirku
~Sherina Munaf~



 
Copyright 2009 Padang Mimpi