Selasa, 22 September 2015

Pengulangan Tahun

Waktu seperti berduyun-duyun mengirim pesan
Bahwa bilangan usia tak lagi muda
“Bukankah pengulangan tahun adalah hal yang lumrah?”
Pekikku pada angka 18 di Bulan April
Dia termangu...mungkin juga tergugu
Mematai-matai dengan penuh curiga
“Tidaklah lumrah! Ini tentang kesempatan”
Celotehnya sewot

Kesempatan,
Barangkali tentang nafas
Yang setia menyusup diam-diam di bantal tidur
Barangkali tentang hidup
Yang masih bergelantungan di sela-sela jari kaki manis
Barangkali tentang mimpi
Yang senantiasa terlunta-lunta di tengah carut marut isi pikiran
Barangkali tentang cinta
Yang datang dan pergi menyapa sekejap
Tak apa
Suatu hari di pengulangan tahun yang entah keberapa kalinya
Nafas akan membaur dengan udara
Hidup akan menopang kaki dengan kuat
Mimpi akan menjelma cahaya di perbatasan gelap
Dan cinta akan menemukan muara pemberhentiannya
Yang memang datang tapi tidak untuk pergi dan menyapa sekejap
Apakah kamu yang berujar tengah malam dengan sepotong kue dan lilin ulang tahun khayalan adalah kesempatan?

~Pengulangan Tahun di tanggal 18 April~
Kamis, 16 April 2015

Perjalanan Dari Tanah Atas (2)



                “Ibu Guru tidak usah ikut mengantar Rauf karaoke ya di malam final nanti?”, candaku dengan raut muka serius ketika melatihnya bernyanyi.
                “Saya tidak mau menyanyi kalau tidak ada Ibu Guru”, protesnya dengan kedua alis mata yang  saling beradu.
                “Ya sudah, tidak usah ikut final saja ya”, jawabku sekenanya.
                “Arghhhh...Ibu Guruuuu!”, jeritnya dengan nada khasnya yang membuatku ketagihan untuk selalu menggodanya, kemudian setelah itu aku akan tertawa terbahak-bahak, sedangkan dia akan menggerutu tanpa berhenti.
                Gerimis masih belum berhenti, gelap membungkus wujudnya sehingga hanya gemericik air di atas genteng sebagai isyarat bahwa butiran airnya masih berjatuhan. Kami –aku, Pak Nardi, dan Rauf- masih berlatih vokal dan penghayatan lagu untuk persiapan final karaoke di Kabupaten. Berbarengan dengan briefing Kelas Inspirasi #2 Majene, sehingga daftar pekerjaanku sebagai fasilitator event sekaligus seorang Ibu Guru harus dibagi sesuai porsinya supaya tidak ada yang terbengkalai. Malam ini merupakan kesempatan terakhirku melatih Rauf benyanyi, karena besok ragaku harus sudah berada di Kabupaten Majene untuk mempersiapkan briefing Kelas Inspirasi #2 Majene.
                “Nardi, jangan lupa berangkatnya pagi-pagi. Aku mau nyariin kostum dulu buat Rauf”, pesan singkat terkirim pagi buta kepada Pak Nardi, Guru Honorer sekolah yang kerap kali kusapa tanpa embel-embel “Pak” karena usia yang masih seumuran dan barangkali karena kami sering terlibat event atau kegiatan informal bersama-sama sehingga embel-embel tersebut luntur pelan-pelan.
                Tepat hari ini merupakan hari pertandingan Rauf. Tapi sampai jam 10.00 WITA, Pak Nardi dan Rauf belum kunjung datang. Sambil mempersiapkan acara briefing nanti siang, sesekali kuperiksa telepon genggam, berharap ada kabar dari Pak Nardi. Penunjuk waktu di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 11.00 WITA ketika Pak Nardi dan Rauf datang. Sontak aku berlari ke arah mereka, “Duh...kenapa lama sekali?”
“Iya, maaf Rin. Tadi Rauf belum bangun. Kami tidur larut malam karena latihan lagi”, Pak Nardi menjawab dengan nafas yang masih turun naik.
“Harusnya tadi disiram air saja, Nardi”, jawabku, lagi-lagi dengan nada serius.
“Arghhhh...Ibu Guruuuu!”, kembali jeritan khas itu yang meluncur dari mulutnya.
Setelah meminta izin kepada panitia Kelas Inspirasi, aku membawa Rauf untuk memenuhi perutnya yang keroncongan dan berkeliling untuk mencari kostum. Beberapa tempat disinggahi untuk mencari kostum yang cocok, panas menyengat sampai ke ubun-ubun. Kulirik Rauf, si kecil bersuara khas, tampaknya dia juga mulai nampak keletihan dan kepanasan.
“Ya sudahlah, nak. Kalau tidak dapat kostum, kamu pakai sarung saja ya?”, tanyaku dengan santai.
“Arghhhh...Ibu Guruuuu!”, lagi-lagi jeritan itu yang spontan keluar dari mulutnya.
Sampai akhirnya, kami berhenti di salah satu toko, dengan membawa 0,1% harapan bahwa kami akan menemukan kostum yang diinginkan. Hampir seluruh  etalase kaca kami bongkar, semua gantungan baju tak luput dijelajahi, tapi nihil. Tapi tiba-tiba...
“Ini saja, Bu. Maiko, Bu Guru!”, Rauf menarik tanganku untuk menilik sebuah kostum, setelan jas hitam kecil, kemeja putih berlengan panjang dengan hiasan renda sederhana di samping kancing baju, beserta celana hitam. Seleranya tidak terlalu rendah juga untuk ukuran anak-anak pegunungan dan pedalaman. Kami mencoba terlebih dahulu, berharap kostum tersebut tidak terlalu kecil untuk Rauf. Barangkali, setelan jas hitam ini memang berjodoh dengan Rauf. 

Waktu menunjukkan pukul 15.00, setelah mempersiapkan kostum Ra’uf, kami segera berangkat ke lokasi final dengan tergesa-gesa. Sesampainya di lokasi, kami mengambil nomor undian, nomor 6. Detik-detik penantian inilah yang paling mendebarkan bagi Ra’uf, pasang muka murung, antusias terhadap penampilan finalis lain makin tinggi, dan keringat yang sebesar biji jagung mulai bermunculan di sekitar dahi. Tidak seperti finalis lain yang berasal dari SD unggulan di Kabupaten, mereka membawa sangat banyak supporter, kami hanya datang membawa segenggam harapan. Aku berkelakar sepanjang penantian tersebut, “Ya ampun, nak. Itu keringat apa butiran jagung?”. Dia tertawa disusul raut muka gelisah kembali. Lima menit sebelum berdiri di atas panggung, ketakutannya semakin menjadi. “Ibu, nanti saya lewat sebelah mana?”, “Ibu, bolehkah saya lewat sebelah sana?”, “Ibu, tapi saya malu lewat sana, lewat sini saja ya?”, macam-macam pertanyaan menyerangku bertubi-tubi, terlihat betul bahwa Ra’uf mulai nervous.

Tubuh kecil di tengah panggung yang lumayan besar, hampir aku pun tidak percaya bahwa dia akan berdiri di sana, diantara para finalis yang berasal dari SD unggulan di Kabupaten Majene. Sejenak aku merasakan bahwa jantungku berdetak lebih kencang, kecemasan yang melakukan kudeta secara tiba-tiba. Lagu pertama selesai dinyanyikan, sempat tersendat suaranya karena sendawa yang mendadak hadir. Lagu kedua mulai dinyanyikan,
“Lagu ini saya persembahkan untuk guru yang pernah mengajar saya dan sekarang telah pulang kembali ke kampungnya”, iringan musik terdengar sendu, bulu kuduk tiba-tiba merinding
I’ omo cinna mata’u
Sangga I’o dilalang diateu
Membolong tama di ate mapacinmu
Mokara’ namerasai panoso
Tenna nariandi da’duau dilalang di atemu
Bawama’ lao dilino tammembali’
Sembangamma dau muingaran bomi
Oguru polemo’ mai
Bawama saliliu
Paulianna nyawau
Sawa’ sangga i’omo’ papperandanna nyawau
Andian..andian..da’duamu
Dan entah sudah yang keberapa kalinya, dia berhasil membuatku air mataku runtuh. Lagu mandar ini memang aku dan Pak Nardi pilihkan, karena lagu ini pernah dinyanyikan oleh Pak Ifan –Pengajar muda VII sebelumnya-, sehingga akan memberi efek dramatis untuk Ra’uf yang baru sebulan ditinggalkan oleh Pak Ifan. Tapi, kami tidak pernah menyangka akan menembus perasaan terdalam kami juga.
                Ra’uf turun dari panggung dengan nafas yang dilepas sebebas-bebasnya. Kuacak-acak rambutnya yang kaku karena gel rambut dari Pak Patria. Dia tidak terima dan kembali mengeluarkan jeritan khasnya, “Arghhhh...Ibu Guruuuu!”. Barangkali di ruang hati yang entah berada di sebelah mana, Ibu Guru berambisi untuk membuatmu menjadi juara. Tapi, melihatmu bisa berada di atas panggung, merobohkan segala ketakutan dan rasa mindermu, adalah sesuatu yang sangat luar biasa untuk ibu. Ambisi Ibu Guru lenyap entah kemana. Cukuplah aku menjadi seorang teman, seorang sahabat, seorang ibu, dan seorang guru yang ingin mempersembahkan sepenggal waktu yang tidak lama ini dengan hal-hal yang sangat berharga, lebih dari sebuah kemenangan, tapi waktu untuk tertawa, untuk bermain, untuk belajar, untuk menjadi baik, dan untuk mencari pengalaman.

Perjalanan Dari Tanah Atas



                Hidup adalah perjalanan menjemput mati, proses yang barangkali panjang dan menyuguhkan beragam fase, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, kemudian tua dan seluruh organ-organnya menyerah untuk tetap menyumbang nafas pada raga. Atau barangkali proses yang pendek, bayi meninggal, anak-anak dicabut ruhnya.
                Sebagai seorang dewasa yang telah beruntung mengecap dan menjelajahi banyak fase hidup, pun diizinkan untuk merengkuh dan berada di antara fase anak-anak luar biasa di Dusun Buttutala, aku mengerahkan segala daya dan upayaku untuk memberi mereka sebanyak-banyaknya waktu yang berharga. Maka, di penghujung senja ini kubawa  mereka menempuh perjalanan kaki sepanjang 2 Km menuruni gunung dan perjalanan mobil sepanjang 89 Km dari Desa menuju Kabupaten. Untuk apa? Untuk tampil di depan umum, untuk memantik keberanian dan kepercayaan diri mereka. Sebagai seorang Ibu Guru, aku tidak berekspektasi terlampau jauh untuk membuat mereka memperoleh juara di Kabupaten. Bagi mereka dan bagiku, dapat tampil dan beraksi di sebuah SMP Unggulan se-Kabupaten adalah sebuah pengalaman yang tak ternilai, tidak mampu dibarter dengan nominal sebesar apapun.
                Kaki-kaki kecil berjalan beriringan, menempuh tanah liat kering dan jalan setapak yang sesekali turun dan naik. Mereka berceloteh dengan bahasa mereka yang masih susah aku pahami, bercampur Bahasa Indonesia dengan susunan yang masih semrawut. Raut muka yang penuh kebahagiaan, bukan karena mereka sudah siap untuk menyingkirkan banyak saingan dari SD-SD unggulan di Kabupaten, tetapi mereka akan menginjakkan kaki di Kabupaten, momen yang mungkin hanya bisa mereka rasakan 2 atau 3 kali dalam setahun, atau bahkan tidak sama sekali. 


                “Ibu guru, sini gitarmu. Biar kubawakan”, Rudi-siswaku yang cerdas, tapi tidak pernah bosan membuat teman-temannya menangis- menarik gitar yang kupanggul sambil berjalan dibelakang mereka. “Mana tasmu, Bu? Sini biar aku yang bawa”, Andri menawarkan pundaknya untuk membawakan bebanku. “Bu Guru, ini ambil rambutan, yang banyak”, Hasrina menyodorkan kresek besar berisi Rambutan dan memaksa untuk memenuhi lambungku dengan buah tersebut. Berada diantara mereka merupakan sebuah keajaiban, memang butuh tenaga ekstra untuk membentuk karakter mereka, tapi di sisi lain ada hal-hal menarik yang bisa mendongkrak kelelahanku setelah seharian bergelut dengan prilaku mereka yang masih butuh ditempa, yaitu kasih sayang dan keperdulian mereka kepadaku.
                Mobil sewaan telah siap mengantar anak-anak menuju Kabupaten yang jaraknya tidak dekat, melalui jalanan berkelok dan beberapa sisi jalan yang berlubang. Wajah berseri yang keindahannya mengalahkan matahari senja, betapa beruntungnya aku mampu menikmati kegembiraan mereka yang mungkin hanya bersinar saat mereka hendak ke Kabupaten dan momen seperti ini sangat langka. Anak-anak tetaplah anak-anak, ego yang masih tinggi, seperti halnya dalam menentukan tempat duduk di dalam mobil. Kali ini kubiarkan Bapak Guru Nardi yang menaklukkan anak-anak.
                Wajah pagi yang tidak biasa, riuh rendah suara anak-anak yang tidak sabar menghadapi hari ini, hari pertama pertandingan. Halaman depan SMP Unggulan 3 Majene telah jadi lautan anak-anak yang hendak mengikuti perlombaan, bersiap-siap untuk mempertontonkan yel-yel mereka. Gelisah, nervous, memang bukan aku yang akan memperagakan yel-yel tersebut. And well, akhirnya merasakan juga momen menjadi seorang guru yang melihat anak-anaknya bertanding. 
                Setelah pembukaan sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, peserta Lomba MIPASS dipanggil untuk masuk ke ruangan. Kami -aku, Hasrina, Nunu, dan Rudi- sontak kaget dan tergopoh-gopoh mencari ruangan. Hasrina mencari daftar namanya dengan seksama di setiap pintu masuk ruang kelas, “Ibu...Ibu...ini ada namaku”. “Mana, nak? Mana?”, kulihat satu per satu daftar nama peserta dan belum ketemu. “Ini Ibu. No 16”, dia menunjuk tepat di nomor urut 16. Kuikuti langkahnya memasuki ruangan, langkah yang ragu-ragu ataukah minder? Entah. Kupegang pundaknya, berusaha menyuntikkan kekuatan ke dalam dirinya, “Semangat ya, Nak! Kerjakan dengan tenang dan santai”. Tiba-tiba Hasrina mengambil telapak tanganku, menciumnya, lama, kemudian kuangkat wajahnya, dia menangis, “Doakan Hasrina ya, Bu!”. Antara terkejut dan terharu, sempat terpaku sejenak memandangi wajahnya yang hampir banjir oleh air mata, “Lihat, Ibu! Yang penting Hasrina berusaha sebaik mungkin, jangan pikirkan hasilnya dulu. Ibu percaya sama Hasrina. Ibu medoakan dari luar ya, nak”. Kembali aku dan Nunu tergopoh-gopoh mencari Rudi yang sudah pergi entah kemana, kutelusuri deretan daftar nama di kertas yang dipasang di depan pintu ruang lomba. “Ibu Guru, ini ada namanya Rudi!”, Nunu menunjuk salah satu nama di sana, dan lagi-lagi bukan aku yang menemukan nama siswaku di daftar tersebut, payah sekali. Kuintip isi ruang kelas dari balik pintu, dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit. Rudi duduk tenang, sepertinya aura kecemasan yang membuatnya terdiam seperti patung di salah satu meja tersebut, tidak seperti Rudi yang biasanya. Nunu menarik-narik tanganku,”Ayo, Ibu! Cari ruangan saya”. Kami kembali tergopoh-gopoh mencari ruang seleksi, hampir melupakan Nunu yang juga akan mengikuti seleksi IPA. Kali ini aku yang menemukan daftar namanya, “Masuk, nak! Ini ruanganmu”. Dia berhenti dan menunduk, “Saya ingin Ibu Guru mengantar sampai meja”. Anak yang paling cerdas di sekolah, di saat teman-temannya mendapat nilai 50, dia selalu mendapat nilai di atas 70, sayang sekali dia tipe anak yang cukup pemalu berada di lingkungan baru. Kutarik tangannya pelan-pelan, berjalan menuju mejanya di salah satu sudut belakang ruangan. “Ganbatte Kudasai!”, bisikku di telinganya, kemudian dia tertawa kecil. Dia memang suka sekali menuliskan kata “Semangat” dengan Bahasa Jepang setiap kali menulis surat untukku.
Nunu
Rudi



















Hasrina
                Seorang anak lelaki kecil, yang tingginya lebih mirip anak kelas 3 atau 4 SD dibandingkan kelas 6 SD, tengah duduk dengan tegang di salah satu kursi. Sesekali melihat sekeliling seperti mencari seseorang dengan raut muka cemas. “Nah...kenapa kamu, nak? Mencari Ibu? Ibu baru mengantar Nunu, Hasrina, dan Rudi mencari ruangannya”, aku menepuk kedua bahunya yang sangat kecil, dia cuma tersenyum. Namanya Rauf, seorang anak yang memiliki suara dan kemampuan musikalitas yang cukup bagus, dan ini kali pertamanya akan berada di atas panggung terbuka untuk lomba karaoke. Mendapatkan urutan nomor 1, sepertinya membuat dia sangat cemas, berulang kali dia bertanya yang sebenarnya lebih menunjukkan bahwa dia sedang tegang. “Ibu nanti saya bilang apa di atas panggung?”, “Ibu nanti saya perlu menyebutkan nama sekolah?”, “Ibu nanti setelah perkenalan langsung menyanyi saja?”, sederetan pertanyaan yang dia berondongkan kepadaku dengan muka yang sangat khawatir, lucu. Sampai akhirnya, gilirannya berdiri di atas panggung, menyanyikan lagu Bunda.
                Kubuka album biru, penuh debu dan usang
                Kupandangi semua gambar diri
                Kecil bersih belum ternoda
                Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih
Tanpa terasa air mataku bergulir jatuh, bangga. Meskipun dia bernyanyi tanpa gaya, mungkin karena malu, tapi dia bernyanyi dengan hati. Seluruh penonton memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. “Dari SD mana itu? bagus”, “SD Buttutala”, “Dimana itu?”, omongan-omongan di belakang yang merasa asing dengan nama SD kami.

Nasriani
Ra'uf



















               Di sisi lain, seorang anak bernama Gilang sedang berjuang di Meja tenis. Pak Nardi, Pak Khairil, Pak Patria dan beberapa teman-temannya mendampingi serta turut memberikan dukungan. Tak berbeda dengan Rauf, Gilang pun memiliki badan kecil, dibandingkan dengan lawan-lawannya, badan Gilang yang paling kecil. Dia kecil, tapi gesit. Dan hari ini, kegesitannya telah membawanya menuju babak penyisihan. And see, bahkan apa yang kami dapatkan hari ini melebihi ekspektasiku. Gilang lolos ke tahap semifinal Tenis Meja, Rauf lolos ke tahap final, dan Rudi lolos ke tahap praktek Matematika.
              Pagi yang lain, tidak seperti kemarin, hari ini mereka lebih bersemangat. Mereka mulai paham bahwa sesungguhnya mereka bisa berprestasi layaknya anak-anak di kota. Dan hari ini, Gilang dan Rudi akan memperebutkan juara, sedangkan Rauf akan maju di Final tanggal 27 Februari 2015. Hari ini, Nunu juga akan mengikuti lomba da’i cilik. Semenjak pagi, Nunu sudah berbisik kepadaku, “Ibu Guru, saya tidak usah maju saja ya”. Dia malu, sindrom yang selalu menjangkiti hampir seluruh anak-anak dari pedalaman. Akhirnya, aku dan Nunu duduk di depan sebuah panggung terbuka, dimana Nunu akan tampil di sana dan disaksikan oleh banyak orang. Tiba-tiba dia menangis, aku kebingungan, cuma kuberikan tissue untuk menghapus air matanya dan kubiarkan dia menangis beberapa saat, kemudian kubisikkan sesuatu kepadanya, “Ibu tidak perlu Nunu untuk menang, yang penting Nunu sudah berani tampil, itu sudah sangat berharga buat Ibu”. Dia masih sesenggukan beberapa saat, minta diantar ke toilet, dan bertanya, “masih berantakan kah jilbabnya Nunu, Bu?”. Kurapikan kembali jilbab dan wajahnya yang sembab karena menangis. Kami kembali ke depan panggung dan hari ini Nunu menjadi seorang da’i cilik dengan sangat membanggakan. Tak masalah dia tidak lolos ke babak final, karena hari ini Nunu telah menjadi pemenang untuk dirinya sendiri, dia berhasil mengalahkan ketakutannya.
                 Sore ini, sebelum anak-anak pulang, kubawa mereka ke laut. Mereka berenang dan meloncat dari tembok, membebaskan kebahagiaan sekaligus keletihan mereka setelah beberapa hari mengikuti perlombaan. Dan cukuplah perasaan sebagai seorang Ibu kepada anak-anaknya, perasaan cemas, bangga, terharu, bahagia, dan cinta. Terima kasih telah memberikan perasaan-perasaan ini kepadaku, Nak. Sore beranjak menuju petang, gelap mengawal di beberapa sudut, yang pada akhirnya mengajak kami untuk segera beranjak pulang. Seluruh lelah atas perjuangan kami beberapa hari kemarin akan terbayarkan nanti di malam final, kami menunggu Rauf untuk memberikan suara terbaiknya di malam final, “Siap, Nak?”, “Siap Ibuuuuu!” pekiknya di telingaku.
~Cerita perjalanan dari tanah atas masih berlanjut~
Senin, 02 Februari 2015

Kakak Hebat



Teknologi telah mengantarkan percakapan dan pertemuan kami melalui social media dan pesan singkat. Segan, sungkan, canggung, tapi kami selalu melanjutkan obrolan maya yang semula hanya perkenalan basa-basi menjadi obrolan hangat dan terkadang candaan, bahkan olok-olokkan. Suasana cair, setiap akhir minggu kusisakan sedikit waktu untuk mengenal sosok pengajar muda VII ini yang akan segera kulanjutkan tongkat estafetnya. 

Detik bergulir, menit, jam, dan hari mengikuti rotasi dan revolusi bumi, baik terhadap bulan maupun matahari, hingga akhirnya tiba waktu dimana kami hidup dalam obrolan yang nyata tanpa teknologi alat komunikasi lagi, 21 Desember 2014. Menyebalkan, jutek, sadis, tukang cibir, tapi seluruh permukaan tersebut hanya kamuflase. Beliau merupakan pengajar muda VII paling renta di Kabupaten Majene, dewasa, baik, humble, tulus, dan perhatian. Beruntung sekali dipertemukan dengan beliau, meskipun tukang cibir dan sindir yang selalu berujung di aku sebagai korban. 

"Untukmu yang punya mata sipit, terima kasih telah membuka tangan dan menerimaku sebagai penerusmu. Untukmu yang suka usil dan terkadang menyebalkan, terima kasih telah memberi banyak hal, bukan hanya ilmu tapi juga kasih sayang. Untukmu yang suka ditakuti anak-anak, terima kasih telah menitipkan aku di keluarga dan masyarakat yang sangat baik. Untukmu yang suka marah-marah, terima kasih untuk 2 minggu yang sangat istimewa. Untukmu yang sangat ditangisi kepergiannya oleh banyak orang, terima kasih telah menjadi kakak yang super hebat dan keren"

~Tulisan sederhana ini didedikasikan untuk Alumni Pengajar Muda VII Buttutala paling renta~
Minggu, 01 Februari 2015

Atraksi di Aspal Jalan Majene-Mamuju



Alarm menjerit dengan serampangan, semakin lama semakin keras dan mengganggu indra pendengaranku. Pukul 04.00 WITA, aku terbangun dengan tergesa-gesa, menuju ke kamar mandi dan membasahi wajah, berharap dapat mengusir kantuk dan mereduksi sedikit kelelahan akibat begadang untuk rapat audiensi program. Dua puluh menit berlalu, tas ransel besar bertuliskan Indonesia Mengajar yang merupakan peninggalan kakak PM VII tercinta yaitu Mas Ifan, telah melekat di punggunggku. Ocy memanggil dari balik punggung, dia hendak menumpang motor bapak angkatku, tapi aku paham betul bahwa niat sesungguhnya Ocy adalah menemaniku yang nekat pulang pagi buta, kuperbolehkan dia menjadi teman perjalanan pulang ke dusun.
Subuh yang dingin, beberapa terlihat penduduk Majene yang sedang berangkat menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat Subuh. Jalanan dari Kabupaten Majene ke arah Mamuju masih lengang dan bahkan masih gelap di beberapa titik. Jalur masih bersahabat, cuma sesekali melewati jalan berkelok yang lumayan tajam tanpa penerangan jalan, hanya mengandalkan lampu motor.
Kecamatan Sendana, kami sampai di tujuan pertama, tempat pengabdian Ocy. Tiba saatnya memulai perjalanan pertama mengendarai motor seorang diri menuju Kecamatan Malunda, menyeramkan, antara gamang dan nekat. Akhirnya kuberanikan diri untuk melalui perjalanan sepanjang 80 Km dengan jalanan berkelok, turun-naik, dan sesekali lubang menganga di tengah jalan. Wajah ceria anak-anakku ketika berangkat sekolah, tubuh kecil berbalut seragam sekolah di pagi hari yang masih berkabut dan terkadang gerimis kecil, suara mereka yang menyapa “Bu Guru” sambil bercerita tentang macam-macam kisah dengan Bahasa Mandar yang dipoles sedikit dengan Bahasa Indonesia, suasana seperti ini lebih menarik bagiku untuk datang ke sekolah daripada harus ketakutan dengan perjalanan seorang diri. Demi mereka, pagi ini aku menerjang dingin, gelap, dan kegamanganku pada jalanan berkelok.
Jam tangan casio hitam menunjukkan pukul 06.00 WITA, kecepatan motor kunaikkan untuk dapat mengikuti pelaksanaan upacara di sekolah. Beberapa saat setelah melewati jembatan, aku tersentak kaget dengan lubang besar di tengah jalan, keseimbanganku terganggu, akhirnya motorku oleng. Kepala terbentur aspal, mataku gelap karena darah yang mengucur, perlahan kekuatanku melemah, tersisa sedikit tenaga untuk menjerit minta tolong sebelum akhirnya kesadaranku menghilang.
Rasa ngilu dan perih memaksa kesadaranku kembali. Kedua mataku terbuka, tapi penglihatan masih kabur. Seorang Ibu dan beberapa orang asing berada di sekitar ranjangku, aku berada di pusat kesehatan. “Nak, ini sudah di puskesmas. Kamu di sini tinggal dimana?  Sama siapa nak?”, Ibu tersebut bertanya di dekat telingaku. Tiba-tiba rasanya seluruh ingatanku sedang mengambang hendak lari, antara nyata dan tidak nyata, antara percaya dan tidak percaya bahwa seluruh yang berlarian di memori otakku adalah ingatanku tentang kehidupan sebelumnya. Pelan-pelan kupungut ingatan-ingatan yang hampir hilang tersebut, “Sa...saya ikut orang tua angkat. Ehm..namanya Bapak Upi”, dengan pandangan yang masih kabur, kulihat ibu tersebut menelpon seseorang. Aku meringis kesakitan, seorang perawat membersihkan luka di lutut yang sangat lebar, serta luka di pergelangan tangan sebelah kiri dan siku sebelah kanan.
Tubuhku dipindahkan ke ruang perawatan menggunakan kursi roda. Celana tidur koyak hingga selangkangan, sarung bermotif kotak besar menutupinya agar tidak jadi bahan tontonan para pengunjung, pasien maupun petugas kesehatan. Beberapa menit kemudian, Ocy datang tergopoh-gopoh, meninggalkan sekolah dan anak-anaknya untuk menjenguk dan menjagaku. Tidak berapa lama, bapak angkatku tiba dengan raut muka khawatir, disusul Pak Kepala Sekolah, Pak Odank, Saudara Pak Bau (Sekretaris Daerah) dengan membawakan bubur dan macam-macam makanan yang tidak mampu masuk mulut karena bibir yang sobek. Beberapa warga sekitar Puskesmas Sendana II turut berkunjung, bahkan aku pun tak mengenal mereka karena lokasi penempatanku yang masih sangat jauh. Sekitar jam 11.00 WITA Bapak Kepala UPTD Malunda datang dan seketika itu menyelesaikan berbagai urusan administrasi, menjemputku untuk dirawat di rumahnya hingga kondisi stabil dan mampu untuk menembus jalanan ekstrem menuju dusun.
Pertama kali dalam hidupku, benar-benar merasa menjadi manusia paling berharga, seluruh orang memperhatikan kondisiku, seperti porselen, dijaga sekali agar tidak lecet barang sedikit pun. Selama 3 hari dan 2 malam, berbagai teman dan kerabat dari orang tua angkat silih berganti berdatangan. Saudara-saudara seperjuangan juga datang untuk melimpahkan banyak penghiburan, meskipun aku kesakitan untuk tertawa, sangat melegakan bahwa kami berdelapan memang telah menjadi saudara dalam kondisi sesulit apapun. Seseorang yang sedang mengabdi di Provinsi Sebelah juga tak henti untuk memastikan keadaan dan selalu mengkhawatirkanku. Luar biasa, kasih sayang yang datang dari banyak penjuru. Terima kasih telah memberiku keluarga dan teman-teman yang begitu tulus, Allah. Terima kasih juga masih mengizinkanku untuk membuka mata setelah pingsan sepanjang 6 Km dari lokasi kecelakaan sampai ke puskesmas. Terima kasih masih mengizinkanku untuk melihat dan mengajar anak-anak lagi. Terima kasih telah menghadirkan seseorang yang meskipun jauh tak luput untuk memberi semangat.
 
*Cerita ditulis pasca seminggu kecelakaan*

Fotografer Amatir

     Tanganku sedang melakukan eksperimen dengan benda hitam yang cukup besar bagi kedua telapak tanganku. Kumainkan lensanya untuk memperoleh fokus objek jauh dan dekat, sungguh hebat benda ini. Benda yang penuh dengan macam-macam tombol ini, memang tidak asing bagi saraf-saraf penglihatanku, tapi tidak bagi saraf-saraf perabaku. Benda ini mungkin hanya mengenaliku sebagai objek, tidak sebagai operatornya.
“Klik...Klik...Klik...”, suara yang terdengar setiap kupencet tombolnya
“Asyik ya, kak! Rasanya seperti dapat mainan baru”, bisik Kadek di telingaku
“Betul juga ya!”, jawabku dalam batin
     Tanggung jawab sebagai fotografer memaksaku mau tidak mau untuk mengutak-atik benda high level ini, kamera DSLR. Menyenangkan, tidak perlu menjadi objek untuk merasakan kesenangan, bahkan merekam mimik muka dan perasaan orang-orang dalam foto pun bisa menjadi sebuah kesenangan, tak perduli lagi bahwa aku sendiri tidak ada dalam foto. Terima kasih Kadek atas kepercayaannya padaku untuk mengoperasikan kamera dan terima kasih untuk Acara Forum Keberlanjutan atas kesempatan menjadi fotografer.

Ruang Sidang Bupati Majene, 22 Des 2015


 
Copyright 2009 Padang Mimpi