Mencintaimu adalah serupa memandangi bintang di langit, ritual yang sanggup kulakukan tiap malam menyergap perlahan, ketika mendung enggan berlalu lalang. Aku mengagumimu dari sisi terjauhku, kubiarkan rutinitas ini menjadi candu yang tak terobati. Aku tak pernah menyangkal pilihan kita untuk membebaskan diri kita masing-masing, namun aku tak pernah sanggup untuk membiarkan perhatianku lepas dari sosokmu. Kemudian aku mulai terbiasa memberi tanpa menerima, atau bahkan aku mulai menerima untuk tersakiti dengan hanya memperhatikanmu dan duniamu. Aku mencintaimu, mencintai apa yang ada pada dirimu, dan mencintai apa yang kulakukan untuk dirimu.
Waktu mengalir pelan-pelan, aku sekarat dengan ekspektasi yang belum pasti. Kemudian aku menyadari duniaku sendiri semakin kerontang, aku membiarkan duniaku hilang hanya dengan menikmati duniamu dari jauh. Aku mulai menyadari bahwa aku telah menutup banyak pintu untuk dicintai dan mencintai kembali, aku hanya menunggu pagi segera tiba dan membawamu pulang kembali. Aku bangun dan tersadar, kamu sekarang seperti bayangan, seperti sejarah, dan aku letih untuk menikmati semua bayangan dan sejarah ini. Maafkan untuk keletihanku, aku menyerah dan melepasmu serta duniamu. Aku belajar untuk kembali melangkah dan menapaki apa yang dipersiapkan Tuhan di depanku. Aku tak mampu lagi menoleh ke belakang dan menikmati seluruh sejarahmu.
Musim merangkak tertatih dan membawa angin baru, menurunkan hujan untuk kekeringan duniaku. Perlahan-lahan kututup pintu belakang dan mulai kubuka pintu depan. Barangkali dia belum memiliki cinta ini, belum memiliki perhatian ini, tapi aku sedang belajar mengkonversikan seluruh cinta dan perhatian pada masa depan, pada dirinya. Dia tak seperti bayangan, dia sebuah kenyataan dalam duniaku, dia bukan sejarah, dia menawarkan kepastian masa depan kepadaku. Dia mengagumi dan mencintaiku karena Tuhan. Dan dialah yang telah kupilih sebagai pendamping hidupku atas restu Tuhan. Aku paham satu hal sekarang, orang yang kita cintai ternyata tak selalu menjadi orang yang tepat bagi kita dan masa depan kita. Semoga kebahagiaanku tak sepenuhnya menjadi kepunyaanku sendiri, tapi mampu menjadi bahagiamu juga. Terima kasih untuk sebuah sejarah indah yang pernah sudi kau bagi denganku, dahulu.
~Saat pilihanku adalah meninggalkan bayangan dan sejarah tentangmu~
Kamis, 09 Februari 2012
Selasa, 29 November 2011
Tamu
Setiap orang datang dan pergi seperti tamu dalam hidup kita. Ada yang pergi kemudian kembali, ada yang pergi tak pernah kembali. Ada yang pergi karena masa waktunya di dunia telah usai, ada yang pergi karena mereka tak sayang kita lagi, ada yang pergi karena mereka tak membutuhkan kita lagi, dan ada yang pergi karena mereka terlalu menyayangi kita. Sedih??Terpuruk??menangis??itu adalah hak kamu, hak kita. Menangislah,,menangis,,sesuatu yang wajar pada manusia, makhluk berhati dan berperasaan. Menangislah agar kamu lega,,menangislah pada perpisahan. Tapi setelah itu, kuat lah kembali,tegak kembali, beritahu pada dunia bahwa kamu baik-baik saja, bahwa kamu masih punya harapan, bahwa kamu bersyukur pada semua yang telah terjadi, bersyukur bahwa Tuhan tak pernah lalai mendampingi kita.
Kita tak punya hak pada tamu-tamu tersebut, tamu-tamu tersebut kepunyaan Tuhan. Kita hanya dititipi, kita hanya disinggahi, entah sekarang ataupun nanti tamu-tamu tersebut akan kembali pulang. Seperti halnya harta, tapi mereka lebih berarti beratus-ratus kali lipat dibandingkan harta, ketika Tuhan mengambilnya kembali kita hanya mampu pasrah, kita hanya mampu ikhlas, dan kita hanya mampu mendoakan. Menangislah,,silahkan menangis jika memang terlalu sakit rasa kehilangan itu, tidak ada yang salah dengan menangis, tidak ada yang salah dengan air mata yang keluar, itu adalah bentuk kasih sayang, itu adalah wujud kecintaanmu pada sesama. Tapi jangan pernah menyesali hidup, jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Karena masih banyak tamu yang mengantri untuk membahagiakanmu, untuk merangkulmu, tamu yang disediakan Tuhan untuk menemanimu.
Ketika kamu tak sanggup berdiri lagi, ketika kamu tak mampu menatap ke depan lagi. Ada banyak uluran dan genggaman tangan yang hendak membantumu kuat, membantumu berdiri, dan memapahmu untuk berjalan ke depan. Menangis,,,menangislah sekencang-kencangmu sekarang,,dan kuat lah kembali esok hari, tegarlah kembali ketika matahari datang menjemputmu. Dan ajarkan aku ketabahan, kesabaran, keikhlasan, dan ketegaran ketika aku mengalami fase sepertimu suatu saat nanti, ketika seseorang yang kucintai dan kusayangi diambil kembali oleh Sang Penguasa Hidup.
Secangkir Kopi Susu
Merasa hidup begitu kelabu seperti petang?,,atau begitu gelap seperti malam yang menyerang tanpa bulan?ataukah hanya kita saja yang lupa untuk sedikit membuka mata, mencoba untuk memberi nilai lebih pada semua yang lalu lalang di setiap setapak jalan hidup kita?karena hidup seperti kombinasi bubuk kopi,butiran gula, dan susu cair. Menyeruput secangkir kopi susu, harus diaduk dengan rata terlebih dahulu agar bisa merasakan kombinasi ketiganya, nikmat dengan sedikit pahit. Lalai mengaduk kopi susu, kamu akan merasakan manis di permukaan tapi ada endapan pahit di dasar cangkir, sangat pahit . Bagaimana jika kita pun mencoba mengaduk semua kombinasi rasa yang muncul dalam hidup kita??agar yang pahit tak terasa pahit yang berlebihan,tapi pahit yang nikmat.
Ketika kamu harus bersusah payah untuk memperoleh sekoin receh atau selembar uang, tapi tak juga kamu dapatkan sekoin receh atau selembar uang, peluh sudah mencapai ubun-ubun, deadline pembayaran biaya pendidikan tinggal menunggu jam, tagihan rumah sakit bapak semakin menumpuk. Ketika rasa cinta dan sayangmu kepada seseorang tiba-tiba diabaikan, ditinggalkan, dan kamu harus kembali menjajaki lantai dengan kedua telapak kakimu sendiri, tak ada lagi yang menopangmu untuk berbagi sedih dan bahagia, tak ada lagi dia yang dulu ikut merasakan bebanmu sehingga terasa ringan. Ketika bapak dan ibu memutuskan untuk berjalan tidak beriringan lagi, tak ada lagi bapak dan ibu dalam satu atap, dalam satu kasih, yang ada perselisihan antara mantan istri dan mantan suami. Ketika nyawa bapak atau ibu sebagai kepanjangan tangan Tuhan untuk membesarkanmu tanpa pamrih, pun telah diambil kembali oleh Tuhan, tak ada lagi kenyamanan dalam lingkaran tangan bapak atau ibu. Kamu merasa hidup tidak adil??Tuhan tidak adil??atau sebenarnya kita lah yang tak pernah adil pada Tuhan dan pada hidup yang telah Dia berikan pada kita?
Saat berada di kuadran atas roda hidup kita, seringkali amnesia untuk menyempatkan sedikit kata syukur pada Tuhan, kita melupakan Tuhan, tapi Tuhan tak pernah meninggalkan barang sedetik pun. Ketika kuadran di pindah ke sisi bawah roda hidup kita, kita mengeluh, kita menyesal, kita kesakitan, dan barangkali merasa ketidakadilan sangat besar terjadi dalam hidup kita, Tuhan pun tetap tak pernah pergi darimu. Tuhan hanya ingin menyeimbangkan hidup kita, seperti secangkir kopi susu. Penderitaan dan kesakitan adalah hal lumrah agar kita dapat menghargai dan mensyukuri kebahagiaan, mengajarkan kita untuk menjadi dewasa. Tuhan adil, hidup adil, dan selalu adil, memberi kombinasi penderitaan, kebahagiaan, kesulitan, kemudahan, kesedihan, dan kesenangan.
Sesungguhnya kita tak perlu melawan dan membenci hidup apapun bentuk dan wujudnya, tapi kita hanya butuh untuk merasakan, bersahabat, dan memperjuangkan hidup demi kebaikan pribadi, keluarga, dan orang-orang sekitarmu. Tersenyum dan bersinarlah meskipun ribuan ton atau lebih beban sedang kamu sangga, pundakmu mungkin hampir lumpuh,tapi Tuhan tak pernah meninggalkanmu, Dialah yang turut meringankan beban itu.
Jadi inilah waktunya merasa bahwa gelap saat ini seperti peristiwa gerhana matahari total yang sebentar lagi akan terang kembali, Petang akan disambut segera oleh subuh, dan secangkir kopi susu yang telah diaduk sempurna siap untuk dihirup aromanya dan diteguk cairannya. Tersenyum dan bersyukurlah pada apapun yang berlalu lalang dalam jalan hidup kita.
~a big grateful to my God, Allah SWT~
Dear: Wanita
Wanita merupakan bentuk penciptaan Tuhan yang sempurna. "Wanita bukan dari tulang ubun ia diciptakan karena begitu berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja. Bukan pula dari tulang kaki, karena tak pantas ia dihina dan disakiti. Tapi dari rusuk kiri, dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi " (Agar Bidadari Cemburu padamu, Salim A.Fillah). Kesempurnaan dan keagungan wanita bukan untuk memanipulasi dan memanfaatkan setiap lawan jenis, tapi sebagai kado berharga bagi agama, bagi suami, dan bagi keluarga. Kelembutan dan kelemahannnya bukan untuk memudahkan lawan jenis mencicipinya, menyakitinya, atau menghinanya, tapi untuk menghiasi dunia dengan keindahan akhlak, ketenteraman hati, dan kesejukan iman.
Dear wanita, anugerah kecantikan bukan untuk dihargai dengan materi, jangan jadi murah hanya untuk kebutuhan dunia semata. Jangan dengan kesempurnaan fisik, direnggutnya hati lawan jenis dan dibuang semena-mena tanpa belas kasihan. Apa yang kita tanam, Itulah yang akan kita panen suatu hari nanti. Apa yang kita beri, itulah yang akan kita terima suatu saat nanti. Semoga sedikit intropeksi ini, bisa memperbaiki hakikat keagungan kita sebagai wanita. Mari belajar menjadi lebih baik dari sekarang,,untuk wanita.
Rumah
Mungkin tak semewah istana atau rumah tetangga. Barangkali tiap kali musim hujan berkunjung, begitu banyak ember berceceran di bawah atapnya. Tak ada cat putih mulus di dinding, hanya dinding semen yang kasar, bahkan terkadang menggores kulit ketika bergesekan terlalu kuat. Tapi di rumah inilah aku tumbuh,,di rumah inilah aku ditempa jadi manusia yang kuat.
Mungkin lebih mirip gudang daripada rumah, kosong dengan barang seadanya. Ketika malam mengusir senja, cahaya di tiap ruangan redup atau bahkan bohlamnya telah mati dan tak ada yang sadar. Televisi butut yang seumuran dengan usiaku,tak ada remot kontrol, beberapa tombolnya telah hilang entah kemana, bersemut ketika dinyalakan, akhirnya sekarang pensiun dan hanya jadi barang pajangan di salah satu sisi ruangan. Lemari es yang pintunya bisa dibawa kemanapun karena telah copot,hahahaha,bahkan tak sembarang orang boleh membuka lemari es ini,takut pintunya tidak bisa nempel lagi. Kompor gas hibah dari pemerintah jadi barang paling mewah di sisi dapur. Tak ada sepeda motor bahkan mobil, ayah dan ibu lebih menginginkan foto anak-anaknya memakai toga yang hadir di sana. Tapi di rumah inilah aku dibesarkan,,di rumah inilah kami mentransfer kasih sayang dengan tulus.
Siang menerkam,,gerahnya tanpa ampuuun. Kipas angin memberi suntikan sedikit angin,lumayan untuk mengurangi evaporasi atau gutasi keringat dari pori-pori kulit. Malam menyayat,,dingin menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela yang tak pernah tertutup,,menembus lubang-lubang genteng yang kurang rapat. Tapi di sini kami berbagi angin,,di sini kami berbagi selimut,,di sinilah aku dikenalkan tentang berbagi atau barangkali mengalah.Sebentuk rumah yang tak sempurna,,tapi selalu sempurna bagiku,,bagi pertumbuhan jiwaku,,bagi bapak,,bagi ibu,,dan bagi kakakku. Rumah yang saat ini kurindukan,,rumah yang ingin kusapa tapi tak terjangkau oleh jarak dan waktu. Angin titip salam untuk rumah itu, titip salam untuk seluruh isinya,,sampaikan bahwa aku merindukan merekaaaaaa,,sangat rinduuuuu
![]() |
| My dad |
![]() |
| My mom |
Jumat, 09 September 2011
Mengusung Harapan
Cuaca sangat terik hari ini, berada di bawah atap genteng pun tak mampu meredam terpaan suhu yang panas. heheheh entah hanya aku yang merasa atau memang semua orang di Joegja saat ini juga merasakan hal yang sama. Tergelitik untuk menulis dan sedikit bercerita, bukan untuk mengekspose sesuatu dalam hidupku, tapi hanya ingin mengurangi sedikit beban yang aku takutkan mampu mengurangi rasa syukurku kepada Tuhan. Kenapa aku tak bercerita saja pada sahabat-sahabatku atau kawan-kawanku?yaaah sulit mengawali cerita hidupku, bahkan untuk berdongeng kepada sahabat. lebih senang membiarkannya liar sendiri dalam pikiranku dan melakukan sesuatu untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Jadi, tulisan ini hanya mediaku untuk menawarkan sedikit beban agar langkahku ringan, agar beban tersebut tak jadi beban lagi dalam pundakku, tapi jadi sebuah pegangan untuk meraih mimpiku. semoga......
Semester tujuh, memasuki tahun keempat dalam perkuliahanku dan teteng bengek kegiatan yang kulakukan serambi menuntut ilmu. Beberapa sahabat dan kawanku mungkin telah memahami betul bagaimana hidupku berjalan, bagaimana aku melalui kesulitan hidup demi kedua orang tuaku, oleh karena itu aku tak berani lagi banyak bercerita kepada mereka. aku hanya takut mereka bosan mendengar kisah hidup yang isinya hanya kesulitan semata. Tapi memiliki sahabat seperti mereka membuatku sangat bersyukur, mereka memberikan apa yang tidak bisa kudapat, mereka mengenalkanku banyak hal, mereka selalu mampu mengembangkan senyumku yang sering tertutupi mendung, mereka pandai membuatku amnesia tentang beratnya menjalani hidup, tanpa aku bercerita kepada mereka.
Tapi entah kenapa, aku selalu kesulitan utnuk bercerita kepada mereka, selalu kesulitan untuk menunjukkan bahwa terkadang aku capek dan ingin ada tempat menangis, selalu kesulitan untuk membiarkan mereka melihatku rapuh. Aku hanya pandai berpura-pura kuat, pandai berpura-pura tegar, kemudian di belakang pintu kamar aku akan menangis jika letih dan capek menerjang. Jangan tanyakan pula kemana orang spesialmu yang dulu selalu setia menopangmu saat kekuatanmu rapuh??tak ada lagi dia,,tak ada lagi siapapun,,mungkin saat ini dia telah menemukan sebab kebahagiaannya yang lain,,dan selama setahun ini aku telah mampu menempa keikhlasanku melepasnya ke dunia yang dia cari, dunia yang mampu membuatnya lebih bahagia. Tuhanlah yang saat ini dan selalu setia mendengarku bercerita tentang jalan yang terjal, yang dengan khidmat memperhatikan harapan dan keinginanku, dan menempatkan keadaan untuk kebaikanku di masa yang akan datang.
hidup telah menempaku dengan sangat hebat, bukan hanya sebatas hal kecil saja seperti patah hati, namun juga kehidupan ekonomi keluarga. dan saat ini, saat aku menulis huruf-huruf ini, aku sedang berada di puncak kecapaian yang tak terbendung lagi. ingin tidur sebentar dan mengalami amnesia sementara, ingin menanggalkan ragaku sebentar, sebentarrrrr saja, bolehkah Tuhan?. Kemudian ketika aku bangun kembali, aku berharap telah memperoleh kekuatanku lagi untuk menghadapi belokan dan tanjakan jalan hidup. tapi aku takut menjadi hamba yang tidak bersyukur, aku takut mendholimiMu, Tuhanku. aku tak ingin mengeluh,,tapi aku butuh bercerita dan mentransfer sedikit pegal dan kesal. Ampuni aku jika aku termasuk hambaMu yang lupa bersyukur Tuhan.
Semoga setelah terbangun nanti, aku mampu memperoleh kekuatan untuk mewujudkan impian dan harapan kedua orang tuaku, karena demi mereka aku telah sampai di titik hidupku saat ini, karena demi kebahagiaan mereka aku melupakan semua keinginanku yang sebenarnya. semua untuk pengorbanan mereka, Tuhan.
Setiap jam 2 malam, bapak akan bangun dan menyeka wajahnya dengan air wudhu, berangkat ke rumahMu dan berharap putrinya ini menjadi wanita yang sukses dunia dan akhirat. menghabiskan seluruh tanah warisannya untuk pendidikanku dan kesuksesanku. memohon-mohon pinjaman utang ketika tak ada uang untuk pendidikanku. Dan satu hal yang aku takutkan adalah aku tak bisa menjadi apa yang mereka inginkan. hah...aku menangis sebentar,,,dan biarkan kuselesaikan ketakutan dan keletihanku saat ini.
"Tuhan, kau boleh tidak mewujudkan keinginanku, tapi tolong wujudkan keinginan mereka, keinginan kedua orang tuaku"
amin..
~memagut asa yang tercecer di Joegja~
10 September 2011
Semester tujuh, memasuki tahun keempat dalam perkuliahanku dan teteng bengek kegiatan yang kulakukan serambi menuntut ilmu. Beberapa sahabat dan kawanku mungkin telah memahami betul bagaimana hidupku berjalan, bagaimana aku melalui kesulitan hidup demi kedua orang tuaku, oleh karena itu aku tak berani lagi banyak bercerita kepada mereka. aku hanya takut mereka bosan mendengar kisah hidup yang isinya hanya kesulitan semata. Tapi memiliki sahabat seperti mereka membuatku sangat bersyukur, mereka memberikan apa yang tidak bisa kudapat, mereka mengenalkanku banyak hal, mereka selalu mampu mengembangkan senyumku yang sering tertutupi mendung, mereka pandai membuatku amnesia tentang beratnya menjalani hidup, tanpa aku bercerita kepada mereka.
Tapi entah kenapa, aku selalu kesulitan utnuk bercerita kepada mereka, selalu kesulitan untuk menunjukkan bahwa terkadang aku capek dan ingin ada tempat menangis, selalu kesulitan untuk membiarkan mereka melihatku rapuh. Aku hanya pandai berpura-pura kuat, pandai berpura-pura tegar, kemudian di belakang pintu kamar aku akan menangis jika letih dan capek menerjang. Jangan tanyakan pula kemana orang spesialmu yang dulu selalu setia menopangmu saat kekuatanmu rapuh??tak ada lagi dia,,tak ada lagi siapapun,,mungkin saat ini dia telah menemukan sebab kebahagiaannya yang lain,,dan selama setahun ini aku telah mampu menempa keikhlasanku melepasnya ke dunia yang dia cari, dunia yang mampu membuatnya lebih bahagia. Tuhanlah yang saat ini dan selalu setia mendengarku bercerita tentang jalan yang terjal, yang dengan khidmat memperhatikan harapan dan keinginanku, dan menempatkan keadaan untuk kebaikanku di masa yang akan datang.
hidup telah menempaku dengan sangat hebat, bukan hanya sebatas hal kecil saja seperti patah hati, namun juga kehidupan ekonomi keluarga. dan saat ini, saat aku menulis huruf-huruf ini, aku sedang berada di puncak kecapaian yang tak terbendung lagi. ingin tidur sebentar dan mengalami amnesia sementara, ingin menanggalkan ragaku sebentar, sebentarrrrr saja, bolehkah Tuhan?. Kemudian ketika aku bangun kembali, aku berharap telah memperoleh kekuatanku lagi untuk menghadapi belokan dan tanjakan jalan hidup. tapi aku takut menjadi hamba yang tidak bersyukur, aku takut mendholimiMu, Tuhanku. aku tak ingin mengeluh,,tapi aku butuh bercerita dan mentransfer sedikit pegal dan kesal. Ampuni aku jika aku termasuk hambaMu yang lupa bersyukur Tuhan.
Semoga setelah terbangun nanti, aku mampu memperoleh kekuatan untuk mewujudkan impian dan harapan kedua orang tuaku, karena demi mereka aku telah sampai di titik hidupku saat ini, karena demi kebahagiaan mereka aku melupakan semua keinginanku yang sebenarnya. semua untuk pengorbanan mereka, Tuhan.
Setiap jam 2 malam, bapak akan bangun dan menyeka wajahnya dengan air wudhu, berangkat ke rumahMu dan berharap putrinya ini menjadi wanita yang sukses dunia dan akhirat. menghabiskan seluruh tanah warisannya untuk pendidikanku dan kesuksesanku. memohon-mohon pinjaman utang ketika tak ada uang untuk pendidikanku. Dan satu hal yang aku takutkan adalah aku tak bisa menjadi apa yang mereka inginkan. hah...aku menangis sebentar,,,dan biarkan kuselesaikan ketakutan dan keletihanku saat ini.
"Tuhan, kau boleh tidak mewujudkan keinginanku, tapi tolong wujudkan keinginan mereka, keinginan kedua orang tuaku"
amin..
~memagut asa yang tercecer di Joegja~
10 September 2011
Rabu, 07 September 2011
25 Hari
Tuhan merancang 25 hari untukku
Kau tahu utk apa 25 hari itu?
25 hari itu
Tuhan mendekatkan teman lama seperti keluarga
25 hari itu
Tuhan memberikan saudara baru untuk berbagi suka n duka
25 hari itu
Tuhan membimbingku lewat tangan2 yg menuntun tanpa pamrih
25 hari itu
Tuhan mengenalkan kesederhanaan n kerendahan hati padaku
25 hari itu
Tuhan mengajak pengetahuan n pengalaman mendewasakan pikiranku
Dan d hari k-25
Tuhan melihat air mata kehilanganku ketika kaki hrs beranjak dr tempat ni
~Gondol,250811~
Langganan:
Komentar (Atom)













