Tampilkan postingan dengan label Kategori Tema Ke-4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori Tema Ke-4. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Januari 2011

Tujuh Belas Januari


Ada hari..
Dimana kamu memandang bola mataku lekat-lekat
Menelusupkan rasa yang tak pernah kuijinkn masuk

Ada hari..
Dimana tanganmu menggenggam erat jemariku
Merasakan aliran darah yang berdesir melewati pembuluh arteriku
Seakan kamu tak akan pernah melepasnya
Meskipun hanya sebuah jari kelingking kecilku
Ada hari..
Dimana kamu memberikan pundakmu yg kokoh
Sandaran yang paling nyaman
Ketika bebanku teramat berat
Ketika aku tak kuat menopangnya sendirian
Ada hari..
Dimana kamu mengeluarkn sedikit emosi
Emosi yg dibuntuti kecemasan
Ketika lambungku merengek
Tak mau diisi barang sesuap pun
Ada hari..
Dimana kamu merangkulku dengan kalut
Membiarkan kepalaku bersembunyi di dadamu
Karena tak ingin semua makhluk menontonku menangis pedih
Ada hari..
Dimana aku merasa lelah pada jalan yang kita lalui
Terlalu terjal dan curam
Kemudian kamu membantuku brdiri
Menggandengku berjalan kembali d sampingmu
Ada hari..
Dimana kamu mengelus gemas kepalaku
Merasakan sikap manja yang keluar disela derai ceriaku
Ada hari..
Dimana kamu muncul dengan murung dan sedih
Tercekik memandang sekujur tubuhku lemah
Sakit menggerogoti tiap senyumku
kamu mnjaga di samping pembaringan
Hingga kantuk menyergap keletihan yang kamu tahan
Ada hari..
Dimana ejekanmu menemani waktu-waktu bosanku
Ejekan yang membentuk mulut manyunku
Ejekan yg kmudian membentuk rasa kangenku di tiap detik yang lewat
Ada hari..
Dimana kamu mengecup mesra keningku
Ketika ragu membatu di pikiranku
Ketika takut berkecamuk di rongga perasaanku
kamu brbisik 'aku sayang kamu'
..........

          17 Januari 2011
        Mentari dan embun, komposisi yang menakjubkan ketika subuh mulai menjelma sebentuk pagi di luar balkon kamar. Pemandangan yang biasa di setiap pagi, tapi selalu begitu luar biasa bagi kedua bola mataku. Samar cahaya masuk menerobos jendela kaca, mengusir kantuk dan mengejutkan mimpi. Duduk menikmati langit dengan sedikit goresan warna, warna yang belum tentu akan kamu temui dengan kompilasi yang sama pada tiap pagi. Sekilas kuamati angka  yang tersusun di kalender, meraba-raba hari dan tanggal. Aku selalu lupa menandai hari dan tanggal yang memomentumkan tiap hari baru yang mampir. Senin untuk 17 Januari 2011, setahun kah sudah?. Aku hampir tak percaya bahwa waktu berlari lebih cepat dari yang kuprediksikan atau memang aku tak pernah benar-benar memprediksi kelebat waktu yang lewat?. Aku memang tak pernah pandai memprediksi waktu, karena aku lebih senang beranjak bangun dari masa lalu dan membiarkan waktu bergerak sesuka hatinya. “Jika kamu pun tak mampu menyelesaikan kesedihanmu, maka biarkan waktu yang menyelesaikannya”, kata seorang teman, karena itu aku berharap waktu benar-benar berhasil menyelesaikan masa laluku. Tapi aku selalu menyukai pagi, menyukai 17 Januari, dan menyukai moment yang pernah terjadi setahun yang lalu.
***
         17 Januari 2010,
         1 message received “Pergi agak sorean ya?takut ujan, ntar batal laga!!sekitar jam 4-an aku jemput, semoga gak ketiduran,hehehe”
Senyum mengembang dari bibirku, tak perlu terpaku di depan kaca untuk melihat bayanganku, karena aku dapat merasakan bahwa aku telah bersemu merah, dia selalu berhasil memaksaku tersenyum dan merasa bahagia. Jam dinding yang nongkrong di dinding menunjukkan pukul 2 siang, kuputuskan untuk memejamkan mata sejenak, menunggu waktu beranjak ke pukul 4 sore. Sayangnya aku tidak berhasil menutup kelopak mata.
        Tik tok....
       Pukul 16.00 WIB, 1 message sending "udah bangun kan?jangan bilang kamu ketiduran!!". Lima menit kemudian 1 balasan sms datang, "aduh,,,maaf! ketiduran beneran, telat ya. maaf...maaf... =( ". Huh...dasar kebo, ya sudahlah aku sudah memprediksi kemungkinan dia bakal ketiduran, dan ternyata benar 100%.
         Tiga puluh menit kemudian, suara motornya yang khas mengejutkanku dari lamunan dan poseku yang lumayan BeTe seperti besi karatan. Pura-pura pasang tampang ngambek dan manyun 5 meter. Dia berusaha meminta maaf, dan menghiburku agar mulut manyunku ini segera normal kembali. Hahahaha...padahal aku tidak benar-benar marah dan aku selalu tidak bisa marah padanya, pada sepasang mata yang telah menyihirku. 
       Mentari sore bersama sedikit mendung yang menggantung di langit senja, rasanya sore yang istimewa, sore yang berbeda. Aku berharap hujan tidak ikut dalam perjalanan kami mengelilingi kota Joegja, barangkali dia juga berharap hal yang sama. Sore ini aku menyukai angin, menyukai lalu lintas, menyukai debu yang berterbangan, menyukai aspal, dan menyukai parfumnya. Benar kata orang, ketika merasa berbahagia waktu akan terasa berjalan sangat cepat. Maghrib menjemput petang, kami memutuskan untuk berhenti dan melaksanakan shalat maghrib. Seorang sosok yang nyaman dan teduh, seorang imam, dan aku benar-benar menyayanginya.
    Gerimis mulai memagut bumi, mencair pelan dari langit yang mulai semakin gelap. Kami memutuskan untuk segera meninggalkan masjid dan mencari tempat makan. Dia membawaku ke tempat yang benar-benar istimewa, dengan kolam yang menyimpan beberapa bunga teratai dan temaram lampu neon yang membuat suasana romantis, ataukah hanya perasaanku yang merasa semuanya terlalu sempurna dan istimewa malam ini.
 "Kamu suka tempat ini?", suaranya mengagetkanku yang agak tercengang suasana tempat ini.
"Aku suka tempat ini", kemudian aku mengangguk, memantapkan jawabanku.
Tidak,,ini bukan perasaanku saja, dia benar-benar mengatakan perasaannya, dia memandang bola mataku lekat-lekat, dia meminta jawaban, dia mencoba menebak perasaanku, dan dia menanyakan perasaanku padanya. Darahku berdesir, jantungku berdegup terlalu kencang, dan kupastikan pipiku memerah, atau mimik mukaku berubah menjadi konyol. Oh...jangan memalukan, aku mohon. Aku tidak dapat berkata apapun, aku membisu, aku malu untuk berkata. Tapi aku pun menyayangimu, benar-benar seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman.
"Kita makan dulu, setelah itu kamu harus jawab pertanyaanku", katanya sambil melahap makanan di depannya.
Aku berharap makananku tidak pernah habis dan kalau aku boleh meminta, aku berharap Tuhan memberikan dia kemampuan telepati, jadi tidak perlu mulutku yang harus menjawab pertanyaannya, cukup hatiku saja yang berkata.
"Sekarang bicaralah, bagaimana perasaanmu padaku?", tanyanya sekali lagi sambil menggenggam telapak tanganku.
Aku benar-benar merasa bersikap memalukan dan konyol, hanya mesem-mesem malu seperti kucing. Pada akhirnya tetap sepasang mata itu yang mampu meyakinkan aku dan mengajak bibirku berbicara.
"Aku juga ngrasa nyaman sama kamu, aku menyayangimu juga", jawabku dengan muka merah berseri bercampur sikap kekanakanku yang malu-malu kucing.
      Kami memutuskan untuk menempuh perjalanan ini bersama-sama, saling bergandengan dan menguatkan satu sama lain. Kami tahu ada rintangan besar yang harus dihadapi dan aku mengerti satu hal, aku belum bisa masuk ke dalam dunia keluargannya. Keluarganya memberlakukan larangan "pacaran" baginya. Tapi kami yakin, kami mampu menghadapinya, mampu menyanggahnya, dan mampu melewatinya bersama-sama. Aku yakin padanya, pada genggaman tangannya, pada kedua tatapannya, dan pada kekuatannya.
       Sampai pada suatu waktu, sebuah komitmen yang kami bangun bersama tidak semudah itu kami lalui, tidak mudah buat dia, dan selalu menyakitkan bagiku. Apa yang sudah kami susun dan ciptakan bersama harus diakhiri saat itu, harus disimpan dalam-dalam, kalau pun bisa harus dihapus sebersih-bersihnya. Aku kesakitan, aku menangis tanpa air mata, aku ingin tetap kuat dihadapannya, dan kubiarkan dia menggenggam tanganku untuk yang terakhir kalinya. "Masihkah kamu menyayanngiku?", untuk terakhir kalinya aku menanyakan hal ini karena tidak akan dapat kuulangi lagi ketika esok datang menyambutku. "Aku masih menyayangimu, sangat menyayangimu, maafkan aku!", ada getaran yang tercekat dalam kata-katanya dan aku ingin menangis, biarkan air mataku keluar. Terdengar olehku langkah kakinya keluar dari tempatku duduk membeku, menuju motornya, dan menjalankan motornya keluar dari gerbang. Tangisku pecah, hatiku hancur dan berserakan, tidak tahu waktu yang akan aku butuhkan untuk membangunnya kembali atau aku tidak mampu membangunnya kembali.
Ada hari..
Dimana kamu mengulang prmintaan maaf
Saat esistensi U semakin berkurang
Saat kehadiranmu tak mampu mengobati rasa kangenku
Saat waktumu dilahap kesibukan
Ada hari..
Dimana aku memahat keyakinan akan cintamu
Mengukir kesungguhan sayangku untuk jiwamu
Dan menaruh harapan terbesarku padamu
Ada hari..
Dimana semua perlahan-lahan mulai brmetamorfosis
Berevolusi menjadi dingin yang tak mampu terukur oleh termometerku
Melukai pahatan keyakinanku atasmu
aku menerjemahkan sebab positif
Dan brharap semua kembali dalam takaran yang normal
Ada hari..
Dimana kamu semakin jauh berlari
Tak lagi menggandeng tanganku
Tak lagi menungguku
Tak lagi menguatkanku
Tapi semakin meninggalkanku
Menyisakan jejak perih
Bayangan yg memeras kelenjar air mataku
Ada hari..
Dimana akhirnya aku jatuh
kamu tak lagi ada untuk membangunkanku
aku harus berjuang bangun dengan sisa-sisa kekuatanku
Kekuatan yang telah turut kamu bawa pergi
Dan aku hanya berbisik lirih 'terima kasih atas senang dan sakit yang kamu lukis dalam cawan hidupku'
Mungkin tak terdengar olehmu
Atau mungkin kamu sudah menutup telinga rapat-rapat
Kemudian aku tersenyum
****
                 17 Januari 2011
     Aku membiarkan setitik air mata mengalir di pipiku tanpa jalur aliran. Aku masih mencoba menghapus rasa sayangku dan menyimpan semua menjadi bagian kisah yang pernah lewat dalam hidupku. Satu yang belum berhasil kulakukan adalah menghapus bayanganmu, menghapus tatapan sepasang bola matamu, dan menghentikan rasa sayangku. Sebuah lagu mengalun dari sebuah  radio butut, lagu yang pernah menggambarkanmu untukku, dulu....

sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih



sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya 
semua bimbang tangis kesepian

kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku

sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini

sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku

Cinta Pertama dan Terakhirku
~Sherina Munaf~



Minggu, 17 Mei 2009

Prasangka


Agustus 2011, Lebaran
“Kret…..kret….” kursi goyang tua berayun pelan, derit kakinya yang telah kusam melindas ubin–ubin rumah minimalis bergaya eropa, suara yang merupakan komposisi bisu kayu berbau apek dengan bungkam ubin putih. Tubuh renta di atasnya sedang memagut sepi di ruangan tempat muara para tamu yang berkunjung sembari menyerucup teh manis, kopi pahit, atau cokelat hangat favorit pemilik hunian ini. Dinikmatinya hirupan oksigen ke dalam pipa alami hidungnya dan dirasakannya konser dari detakan jantung yang tak sinkron lagi dengan hitungan detik pada bilangan waktu yang mengambang pada tembok putih dengan miniatur cicak di sampingnya. “Ayah”, susunan alfabet konsonan dan vokal itulah yang dengan bangga kupersembahkan bagi tubuh renta yang ditutupi kulit kisut dihiasi relief pembuluh arteri dan vena. Berbeda dengan kedua saudara sedarahku yang memiliki respon tersendiri atas sikap ayah selama tahun-tahun, sewaktu usia kami masih merupakan bilangan yang kecil, ketika masalah keluarga mulai mencuat dan melebar menjadi sebuah konflik yang kompleks. Aku sebagai bagian yang paling bungsu dari tiga bersaudara tak bisa memvonis salah pada kedua kakak perempuanku ataupun pada ayah.
Hari ini adalah lebaran kedua setelah migrasi ayah ke rumahku di Bandung. Namun, setiap penghabisan Ramadhan kami selalu menjalankan rutinitas yang tak tertulis yaitu kembali ke suatu tempat awal semua kisah di mulai, ke tanah setiap pijakan telapak kaki dulu pertama kali menyentuhnya. Kami selalu mudik ke sebuah kampung kecil di pinggiran kota di Jawa Timur, menumpahkan tabungan kerinduan pada keluarga dan bercengkerama hingga larut malam, membiarkan anak-anak mengapresiasikan keasingan mereka dengan sepupu-sepupu yang hanya dapat bertatap muka setahun sekali, tapi semua peristiwa itu dilalui tanpa tokoh ayah. Tak perlu mengerutkan kening, ini adalah pilihan ayah yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Ayah lebih memilih untuk menghayati kesenyapan rumahku dan memandangi keheningan yang menggantung pada pojok-pojok ruang manapun setiap kali lebaran datang. Bukan karena kecintaannya yang teramat sangat pada marmer di serambi depan, tangga-tangga kayu menuju ruang keluarga, ataupun pada televisi layar datar yang selalu dinikmati ayah ketika acara drama pewayangan mulai ditayangkan. Prasangka yang dimiliki ayah terhadap ibu selama ini telah tertanam sangat dalam ke palung perasaannya. Suatu prasangka yang menciptakan ketidaksudian untuk menginjakkan kaki di rumah yang pernah dijadikan tempat perlindungannya dengan ibu ketika membesarkan tubuh mungilku serta kakak-kakakku. Suatu prasangka yang entah timbul dari arah mana telah menelusuk hati ayah. Telah berulang kali kujelaskan dan kuluruskan prasangka yang menjadi miliknya itu selama bertahun-tahun. Tapi, sepertinya isi kepala ayah telah berevolusi menjadi sistem pemerintahan orde baru yang tak pernah menerima sumbang pemikiran dari paham selain kepunyaannya sendiri, bahkan meskipun pemikiran tersebut berasal dari pahamku, dari anak kesayangannya.
***
Desember 2005
Malam mengadopsi pelataran gelap pada kumpulan sepi yang mencuat pada punuk kantuk. Molekul-molekul air berkamuflase menjadi embun, bereaksi dengan udara malam untuk meneror ketelanjangan alam. Simfoni makhluk malam digelar dalam paduan irama yang harmonis, meskipun terlalu bising jika kita sungguh-sungguh mengilhaminya. Namun, khusus untuk malam ini bertambah satu lagi adegan yang menghadirkan kerancuan pada potret malam.
“ Kok bisa bapak punya prasangka jelek sama ibu, bapak ini kerasukan syietan apa sih? Istighfar, pak!” suara wanita setengah tua dengan rona keterkejutan pada bingkai wajahnya.
“ Gak usah mengelak kamu. Aku ini tidak bodoh tau! Aku memang beda sama mantumu. Aku ngerti!” emosi mulai merambah dalam intonasi suara ayah.
“ Demi Allah, bapak, ibu gak pernah segila pikiran bapak. Darimana bapak dapat prasangka seperti itu?” ibu, wanita setengah tua tersebut mulai lirih.
“ Gak usah bawa Gusti Allah! Kamu ini najis”, kemarahan meletup pada ubun-ubun ayah.
            Tumitnya yang kasar menyentuh dagu ibu dengan letusan kemarahan, serta telapak tangan yang mendarat dengan ganas di pipi ibu sehingga meninggalkan bekas merah berkolaborasi dengan biru dan aliran eritrosit yang mulai mengucur pelan dari sudut bibir ibu. Menangis, ibu membiarkan kelenjar air matanya menyiratkan kekecewaan pada ayah.
“ Kalau bukan karena rere akan pulang, aku sudah minggat dari sini. Bapak sudah terlalu sering semena-mena seperti ini. Aku pegel, pegel, pak!” teriakan didampingi isak tangis mengiringi langkah ibu meninggalkan kamar tidurnya bersama ayah, menuju kamar yang lain di sudut barat rumah, kamarku.
***
November 2005
Lembayung sore memenuhi kanvas langit, mengarak kumpulan kondensasi air yang telah bermetamorfosis menjadi uap air pada altar angkasa. Matahari mulai mengayuh cahayanya, menjauhi kemunculan purnama di balik bukit sebelah timur. Terdengar deruman mesin mobil yang semakin memekikkan gendang telinga. Perbatasan antara petang dan malam itu, rumah menjadi riuh. Mbak Tari, kakak perempuan pertamaku beserta suami dan keponakan gadisku yang hampir menginjak usia empat tahun berkunjung ke rumah, atau lebih tepatnya akan menetap di rumah selama beberapa hari. Mbak Tari sedang hamil muda. Semua efek fisiologis akibat keberadaan si jabang bayi membuat urat-urat ototnya kehilangan banyak tenaga sehingga dia memutuskan untuk menjalani perawatan intensif gratis di rumah ibu dan ayah. Tubuhnya yang lemah tak mampu menanggulangi semua urusan rumah tangga di rumahnya. Apalagi gadis kecilnya yang masih belum genap empat tahun sering menimbulkan kepusingan pada otak Mbak Tari. Daftar permintaan gadis itu selalu panjang dan harus segera terpenuhi. Nabila, gadis kecil dengan setumpuk lembaran imajinasi yang selalu merepotkan hampir seluruh orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, seluruh keluarga kecilnya diboyong ke kediaman orang tua kami sehingga Mbak Tari dapat beristirahat dengan tenang tanpa menelantarkan Nabila yang selalu dijaga oleh ibu selama dia tinggal di sana.
Hitungan hari terus berjalan meninggalkan bilangan tanggal pada kalender yang terpampang di sebelah rak buku. Dua minggu telah berjalan semenjak Mbak Tari melakukan hijrah ke rumah orang tua kami. Festival pita suara memenuhi kelonggaran rumah yang cukup luas tersebut, keramaian menjadi pemandangan yang mengurung keheningan yang selama ini berakumulasi dalam atmosfer rumah ayah dan ibu karena rumah besar ini telah ditinggalkan oleh para ahli warisnya untuk mengurai alur kehidupan masing-masing. Mbak Tari yang telah membangun rumah tangganya sendiri, begitu juga dengan kakak perempuanku yang kedua, Mbak Santi yang telah membesarkan laki-laki kecil berusia genap setahun. Sedangkan aku sendiri tengah menjalani proses pendidikan di bangku kuliah yang jauh dari tanah kelahiranku, di sebuah universitas yang terkenal di Yogya. Tak heran jika selama menit, jam, dan hari di rumah besar itu hanya dinaungi rasa sepi. Namun, semenjak kepindahan Mbak Tari rumah menjadi ramai. Bukan karena lenguhan Mbak Tari yang sering muntah, atau dengung ngorok suaminya, Mas Radi, ketika malam datang. Tapi karena teriakan, nyanyian, serta keceriaan Nabila yang telah mampu mengusir iklim sunyi dalam rumah besar itu.
          Selama beberapa hari, awalnya semua masih baik-baik saja. Ibu yang sering bercanda dengan Mas Radi sambil mengawasi tingkah Nabila, melakukan obrolan ringan bersama seluruh keluarga ketika gelap menggeser senja, serta kesenyapan yang masih sering mampir ketika seluruh kelopak mata telah menutup, membawa damai bagi ruh yang terserang kelelahan. Namun, masalah mulai menyelinap masuk di antara panorama indah itu. Ketika suatu malam dengan gerimis yang mengguyur lapisan terluar pedosfer menyebabkan bau tanah yang lama tak di sentuh air hujan, ibu tidak berada di kamar. Ayah memutar bola mata dengan otot elastisnya untuk mencari keberadaan ibu. Kaki-kakinya yang mulai kisut dijatuhkan ke lantai, berjalan pelan dan perlahan dengan penuh selidik. Di dapatnya pintu kamar Mbak Tari dan Mas Radi yang terbuka. Dorongan penasaran yang teramat kuat memaksa ayah mengintip kamar Mbak Tari. Terbelalak kedua matanya yang masih digelayuti rasa kantuk ketika ditemukan sosok ibu di dalam kamar itu. Kemarahan tertahan pada kepalan tangannya, tercekat di sela kerongkongannya. Bukan karena kelancangan ibu mengganggu jatah istirahat putri dan mantunya. Tapi karena di dalam kamar itu, ayah dapati Mas Radi tanpa Mbak Tari. Prasangka buruk itu langsung menjadi virus ganas dalam benak ayah. Prasangka bahwa ibu telah melakukan perselingkuhan dengan mantunya sendiri. Ayah langsung beranjak ke kamarnya kembali. Berlagak tidak terjadi apapun. Siasat telah direncanakan oleh ayah untuk mengeluarkan Mbak Tari beserta Mas Radi dari rumah tersebut.
Silhuet malam telah tersungkur dengan kehadiran mentari. Gutasi pada pucuk-pucuk hijau daun menetes di tanah yang masih lembab karena hujan tadi malam. Ibu mulai membereskan seluruh pekerjaan rumah tangga, berkali-kali berpapasan dengan ayah. Namun, bibir ayah hanya diselimuti dengan hawa kebisuan. Tak seperti biasanya dengan sapaan canda menggoda ibu yang bingung dengan kesibukannya. Ibu tak ambil pusing dengan perubahan sikap ayah, karena ibu sendiri tengah sibuk mondar-mandir melakukan multijob di rumah besar berpenghuni lima manusia itu. Sikap yang sama diberlakukan kepada Mas Radi yang paling peka dengan perubahan signifikan pada ayah. Banyak pertanyaan terpasang di kepala Mas Radi hingga akhirnya dia memutuskan untuk membahasnya dengan Mbak Tari mengenai sikap ayah. Mbak Tari yang memang temperamental tinggi langsung menyimpulkan bahwa ayah bosan dengan kehadiran mereka yang hanya membuat susah. Apalagi selama ini, Mbak Tari selalu tidak sependapat dengan sikap ayah yang mengusir dan mengutuk Mbak Santi yang telah menikah dengan pria yang tidak disetujuinya, termasuk juga sikap berat sebelah ayah di antara ketiga putrinya. Mbak Tari emosi, dikemasnya semua barang mereka. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, Mbak Tari angkat kaki dari lantai rumah itu. Ayah hanya diam, tetap pada kebisuannya. Sedangkan ibu dengan giat mengikuti Mbak Tari keluar pintu sambil mengajukan sejuta pertanyaan tentang kepulangannya yang tiba-tiba.
“ Tanya pada Ayah, bu! Tari pulang”, tuturnya pada ibu seraya mencium pipi ibu.
Mobil melaju pelan, perlahan semakin kencang, kemudian melesat meninggalkan ibu terpaku di depan pintu dengan kebingungan. Semua telah berubah, keluarga ini tak lagi utuh. Prasangka buruk itu telah menyerang ayah terlebih dahulu sebelum ayah mengetahui bahwa pada malam beraksesoris hujan itu bukan hanya ibu dan Mas Radi yang berada di dalam kamar, tapi Mbak Tari juga di dalam kamar tersebut. Hanya saja Mbak Tari keluar sebentar untuk mengambil minyak angin di kamar Nabila. Ia berniat meminta ibu untuk mengerok punggungnya karena muntah-muntahnya tak pernah berhenti sepanjang malam itu. Mbak Tari takut ia masuk angin. Hingga akhirnya kesalahpahaman ini meruncing pada malam Desember 2008 yang menyebabkan ayah dan ibu mengakhiri keharmonisan rumah tangga yang telah dibangun selama beberapa tahun.
***
Agustus 2011, Penghabisan Ramadhan
Nyanyian deru mesin mobil yang dihidupkan oleh Mas Anton, suamiku, mengejutkan lamunan yang dengan asyik kuputar dalam memori yang sempat tertimbun oleh kesibukanku sebagai wanita karir serta ibu rumah tangga. Putra pertamaku yang masih berusia 7 bulan sedang dibopong oleh ayah untuk menikmati taman-taman sekitar rumah sementara kami menyiapkan keperluan untuk kembali ke Jawa Timur, tempat awal seluruh kisah ini dimulai.
“Mi, mesinnya udah panas nih! Jadi gak mudik?? Kuk malah nglamun melulu”, teriakan Mas Anton dari dalam mobil.
“Ah, iya! Tunggu….” Sahutku dari serambi depan rumah, ”ayah yakin tidak mau ikut lebaran di kampung??” Tanyaku pada ayah yang sedang menyerahkan putraku ke gendongan.
“Tidak! Pergilah”, jawab ayah singkat tanpa titipan salam untuk keluarganya di kampung termasuk ibu.
Kuberjalan pelan menuju mobil, kompilasi dari lemah dan kecewa atas sikap ayah yang telah membatu seperti prasasti. Mobil melesat menghempas debu halaman rumah yang selalu hadir meskipun telah berulang kali di sapu oleh mak iyem. Melalui jendela mobil kuamati pandangan ayah yang menerawang ke arah kami, ada jalinan kerinduan yang teramat dalam di kedua bola matanya, kerinduan yang telah kalah oleh prasangka, kerinduan kepada ibu. 
“HATI-HATI……….”, teriak ayah dengan lambaian tangan serta titipan rindu yang tak pernah tersampaikan, rindu terhadap ibu.
                                                                 Selesai

 
Copyright 2009 Padang Mimpi