Sabtu, 16 Februari 2013

Gemericik Air

Gemericik air...
Suatu orkestra sederhana yang disajikan alam
Molekul air yang menumbuk partikel pasir, lumpur, dan kerikil
sssstt...hening sejenak
Rasakan ketenangan yang turut hanyut bersama alirannya

Gemericik air...
Semacam paduan suara yang dihaturkan sungai
Sekumpulan molekul air yang berlarian dan bergesekan
Manggut-manggut pada relief bumi
Resapi dawai yang melaju damai melewati gendang telingamu
Kemudian terlelaplah dalam keindahan melodi yang disuguhkan Code

~25 Desember 2012~
Suatu malam di tepi Kali Code bersama #Tim 34

Djendelo

Dari sudut ini,
Angin dan udara menerobos tanpa permisi
Bunyi dan bising mesin transportasi merajalela begitu sempurna
Indra penglihatan dapat melumat langit dan awan tanpa sisa
Sudut ini adalah salah satu teropong tanpa batas
Sudut dengan djendela lebar,,,

24 Desember 2012
~Djendelo Tanah Airkoe, Joegja~


Happy Mothers Day


This December is like December last year
I still can't hold your palm
I still can't kiss on both wrinkled cheeks that increasingly frail
This December is like December last year
Technology always arrange a meeting what I say and what you say
Small machine strengthen a tie between me and you
This December is like December last year
Your lips always say unceasing prayer
Your breath seeping into my dreams
But this December isn't like December last year
No more tears of sadness
But the tears of pride
December isn't like December last year
Finally I can change one of your dreams to be a real
It's yours, it's for you my mom

Happy mothers day
always be my best mother
always be my pride mother
I love you more than you know,mom
わたしのお母さん、いつもあいしてう+

 ~Yogya, 22 Desember 2012~

Menapaki Empat Puluh Tahun Pengabdian (Ir. Retno WIdaningroem, M. Sc.)


Barangkali mentari masih jauh di ufuk timur
ketika usia berupa bilangan, belum terkatakan
ketika sabda keluar adalah celotehan riang tanpa beban
merangkai mozaik kehidupan penuh warna jingga,
tentang sekolah rakyat, tentang tempelan kapur pada pipi yang bangga kubawa pulang
tentang buah munggur goreng sangan, tempe gembus dan lempeng juruh, favoritku
tentang sekumpulan anak bengal penggandrung tebu
layaknya menikahi sekotak keceriaan tanpa agunan dosa
ringan dan menjalar dengan leluasa

Barangkali mentari tlah sepenggalah tinggi menapaki bumi pertiwi
kilauan sinar peraknya menerobos dengan gesit, hangat menyelimuti atmosfer yang legit
ketika setapak jalanku bermetamorfosa, semacam nimfa petualangan
tentang kompilasi seragam putih-pituh, pohon beringin, lagu keramat Indonesia Raya dan
upacara bendera di setiap awal minggu
tentang goa selarong berta karun jambu kluthuk
tentang segebok buku silat yang sukses menyihirku dengan fantasi rapalan jurus sakti
nyaris sempurna memorak porandakan studiku kala itu

Tatkala roda kehidupanku trus berputar, memberiku kolaborasi warna serupa bianglala
kolektor atas bermacam manusia yang kusapa teman, dengan atribut suku dan kepercayaan
aku mereguk nilai setiap penggalan perjalanan hidup
seluruhnya menjadi satu, membahana di relung hati dan meluruh jauh menukik dalam diriku
memahat sebuah prasasti yang kupanggil karakter

barangkali mentari maikn beranjak ke tengah, ketika kanvas duniaku makin renta
ketika putih abu-abu bermigrasi ke sebentuk kebebasan, keleluasaan
aku berontak pada gelar, semacam kebanggaan mungkin bagi semua orang tua
aku pribadi menggilai sebuah petualangan tanpa belenggu rantai
samapi pada suatu titik, diri ini tak lagi berdaya
gletser mencair damai serupa keluluhan, kepatuhanku yang lalu menyemayamkan impian kebebasan
dalam kampus biru UGM-ku

kusadari diri ini bukan arwana atau mas koki, yang gemulai anggun dlaam aquarium
aku adalah hiu yang bebas bergerak ke segala penjuru samudra kehidupanku
namun kuterperangkap dalam sejenis ruang aneh...gender
di dunia nyata ku hanya seorang perempuan yang digelayuti sejuta tanya,..bisakah? mampukah? bolehkah?
dan, sampailah pada penyempurnaan gelar pertama dalam wujud ijazah sarjana muda

ketika rotasi hidup sigap merasuki ruh perjalananku, aku terdampar di sebuah sudut sunyi
saat mimpi tak menyuguhkan lagi persahabatn dengan kenyataan
hanya kesungguhan menjadi penggubah paling kuat
simphoni mimpi kukejar dan kupaksa hadir dalam dunia non-fiksi
ia berlogo insinyur perempuan pertama, yang menetas di sarang perikanan GAMA

kucetak sinopsis tentang ragam warna, ragam perubahan,
sebagaimana hidup menafkahi sepenggal siangku yang terkadang terik,
terkadang bergumul dengan mendung, terkadang berteman dengan pori-pori kutikula
kukecup siang yang hampir terjangkiti sore dengan penuh syukur atas metamorfose begitu cantik

barangkali mentari sore tlah menggantikan siang, waktu membawaku lari kencang
saat, aturan tak lagi mengizinkan semangat yang trus menyala berkobar
meski terkadang belum puas akan segalanya, kini
harus kukatakan kepadamu cukup, telah cukup,,dan dengarlah doaku

semoga pelita ilmu yang kusebarkan dapat menjadi lentera masa depan
mungkin aku tak kan pernah melihat pelita itu kelak membara
semoga benih ilmu yang kutabur menjadi pohon rindang temapt berteduh masyarakat
meski kutahu tak lagi akan menuainya atau mencicipi lezat buahnya,
aku tak henti memohon semoga Allah berkenan menerima amal-amalku
yang tlah dengan segenap sungguh kupupuk, kusirami hingga telah letih usiaku

hari ini jumat di akhir bulan agustus 2012
telah tiba waktu senjaku, kemarin dan hari ini pun segera kan berlalu
esok pagi kujemput cerita lain diriku

kuberjanji, tetap berjalan tegak, tetap menatap ke depan hingga akhir ujung perjalanan
saat aku tunduk bersimpuh menerima taqdir Illahi Robbi
"Wahai,,kembalillah perjalananmu telah usai"
Di kala saatku tiba, kukan tersenyum riang meninggalkanmu, meninggalkan semuanya
karena aku telah berbuat yang aku bisa
SAMPAI JUMPA ANAK-ANAKKU, SAMPAI BERTEMU SAUDARA-SAUDARAKU. AMIIIN

~Bandung-Yogyakarta End of August 2012~
Rina Anggraeni Safia-Gandhi Eko Julianto-Retno Widaningroem

Persembahan untuk Bunda Retno



Pagi tanpa matahari…. Mendung merangkul cahaya
Ketakutan menyeringai di balik jendela
Kekuatan kakiku membeku
Menyulam keputusasaan penuh hasrat
Tak ada manusia,,,
Aku memakai selendang berlumur mimpi
Mimpi tentang tarian di tengah alam
Luas tanpa jeda,,,,,
Tapi aku menggigil,,menelan hujan di balik kaca transparan
Tiba-tiba aku mencintai ruang pengap ini
Entah aku ingin atau tidak ingin
            Kemudian manusia itu berputar di antara petir
            Melenggok indah di bawah hujan
            Menari tanpa selendang,,,menari tanpa sepatu
            Tarian bebas tak ada batas
            Aku mengernyip di balik labirin
            Aku tak ingin mencintai ruang pengap ini lagi
            Engkau menarikku,,,
Kunikmati wajah renta tanpa lelah
“jangan menunggu hujan berhenti, belajarlah menari di tengah badai”
Mendung tetap bergelayut manja pada siang
Angin menderu,,menyambar molekul air
Aku tersungkur tanpa alas,,,
Khusyu, menerjemahkan tabrakan hujan pada epidermis
Letih,,,dingin,,,sakau pada kehangatan
Engkau tetap berputar,,,melentikkan jari,,,
menari tanpa henti
Senyum tak pernah usai,,,rapalan doa tak kunjung selesai,,, engkau menuntun kakiku
Memboikot takut,,,menawan cemas,,,
“Jangan pernah lari,,jangan pernah menghindari hujan,,karena hujan akan segera reda”
Kemudian kita Melenggok indah di bawah hujan
Menari tanpa selendang,,,menari tanpa sepatu
Tarian bebas tak ada batas
                        Malam  melepas petang,,
                        Menanggalkan mendung,,menyayat gerimis
                        Gelap dirayapi bulan,,
                        Langit menggendong ribuan bintang,,                        
“akhirnya tarian kita berada di tengah cahaya kan?”                        
sabda lembut yang mulai menua,,                        
“terima kasih,bunda”
                        Kemudian kita Melenggok indah di antara temaram cahaya
Menari tanpa selendang,,,menari tanpa sepatu
Tarian bebas tak ada batas

~Jogja,,,ketika perpisahan hanya sebatas memisahkan perjumpaan raga, bukan hati~
By: Rina Anggraeni Safia, 31 Agustus 2012

Kesempurnaan



Dan disinilah aku hidup, dalam sebuah planet yang rutin berotasi 23 jam 56 menit 4 detik dan rajin berevolusi 365¼ hari. Kemudian aku berpikir, bagaimana aku memupuk diri hingga kesempatanku bernafas telah berkurang 22 tahun?bagian otak kiriku reflek bekerja menghitung hari yang telah kuhabiskan dengan bernafas (365 1/4 X 22 = 8.035,5 hari). Barangkali aku beranjak dengan sedikit keegoisan kemudian memelihara keegoisan yang semakin subur, entah kapan aku menyadari bahwasannya egoku terlalu dominan?. Mungkin ketika aku paham bahwa hidup makin sulit, bukan bagiku tapi tentu saja bagi mereka, bagi kedua orang tuaku. Ketika aku paham bahwa mereka semakin amnesia terhadap egoisme diri, bagi mereka semua mimpi mereka terkubur dan melebur ke dalam mimpi anak-anak mereka. Barangkali keinginan mencium  Hajar Aswad ditelan dalam-dalam, dan dihidupkan dalam mimpi sepanjang malam. Suatu hari aku pernah bertanya pada ibu seusai shalat tahajud, "Apakah keinginan terbesar ibu?kelak akan kuwujudkan keinginan itu dengan sempurna". kemudian ibu memandangiku seraya mencium pipiku "jadilah orang yang sukses, bukan hanya untuk dirimu, untuk ibu, atau untuk bapak, tapi juga untuk orang-orang sekitarmu?jadilah apa yang kau inginkan nak, maka itulah keinginan terbesarku, itulah kesempurnaan bagi ibu". Padahal setiap bulan haji datang, ibu selalu berkaca-kaca memandang di layar televisi, terhipnotis dengan ka'bah, tapi ibu akan tetap mengumpulkan selembar demi selembar uang kartal untuk cita-citaku bukan untuk memenuhi keinginannya berangkat haji.  

Dan disinilah aku hidup, menghirup oksigen dengan tambahan sedikit karbondioksida, agaknya bumi menjalani khemoterapi, semakin gundul dan kritis. Aaaah barangkali umur bumi tak mampu menjangkau masa revolusinya atau bahkan tak sempat menjalani periode rotasinya atau ternyata usiaku lah yang terlalu kelelahan mengejar periode perputaran bumi. Suatu saat aku akan menjalani seleksi alam dan suatu waktu nanti aku akan mengalah pada takdir, tak ada lagi kesempatan untuk menghembuskan nafas. Dan apa yang telah kuperbuat untuk orang-orang sekitarku??aku takut menimbangnya, aku takut bahwa ketidakbaikanku lebih berat berjuta-juta ton dibandingkan kebaikanku. Maka jangan lagi menilai kesempurnaan sikap dari cermin sendiri, tapi nilailah kesempurnaan sikap dari cermin orang-orang sekitar. Berbagilah dan bangunlah kebahagiaan untuk orang-orang sekitar, dan senyum merekalah yang sebenarnya menjadi sebuah kesempurnaan. Sebelum nafasku ditarik dan detak jantungku dihentikan, barangkali aku ingin sukses membahagiakan orang-orang di sekitarku, inilah sebuah kesempurnaan.
Rabu, 18 April 2012

Me in 23rd n You in 22nd


Hari ini,,
Kita menjangkau hitungan waktu yang lebih tinggi
Menanggalkan satu tahun dengan rentetan aljabar kisah
Bahagia, sedih, susah, senang, mudah, sulit, tangis, amarah, dan tawa
Koleksi emosi memenuhi kantong usia kemarin
Tapi selalu ada proses yang kita lewati
proses belajar, proses dewasa,

Esok,,
ketika aku terbangun dengan bilangan usia yang makin banyak
suatu ketika dimana kita melalui sebuah perayaan 18 april  pada tahun yang sama
tapi di ruang yang berbeda, di arena dunia yang tak sama lagi
Ketahuilah bahwa aku bersyukur memiliki tanggal istimewa 18
karena kita pernah bersama-sama menunggui 18 April
untuk memulai usia yang baru, sahabat
Selamat Ulang Tahun


 
Copyright 2009 Padang Mimpi